Memilih Radio Komunitas Sebagai Alat Perjuangan

Ada banyak pertanyaan dari beberapa teman baik itu secara personal maupun kelembagaan tentang kenapa saya memilih radio komunitas sebagai alat perjuangan untuk mengisi masa reformasi? Jawaban yang saya selalu kemukakan sejak tahun 1999/2000 (awal2 menggagas radio komunitas masuk ke rancangan UU Penyiaran) adalah karena radio komunitas alat paling masuk akal baik secara ekonomi maupun politik  untuk digunakan rakyat dengan leluasa.

Bagi masyarakat akar rumput, Rakom penting karena bisa menjadi pemegang mandat hak masyarakat untuk mengetahui dan memberitahukan informasi, the rights to know dan the rights to inform. Bukan itu saja, perangkat dan biaya operasinya yang relatif murah membuat masyarakat, tidak hanya pemodal besar dan pemerintah, sekarang mampu mempunyai media informasinya sendiri yang tidak lagi dikontrol oleh berbagai kepentingan dari luar komunitas tapi betul-betul bisa dipakai untuk membantu komunitas memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah-masalah yang ada. Bahkan suara mereka nanti tidak hanya diudarakan di komunitasnya sendiri, tapi akan bisa disiarkan oleh Rakom-rakom lainnya melalui kerja berjaringan.

Menyuarakan kepentingan komunitas itu gagasan mendasar yang ada di balik kerja-kerja penguatan radio komunitas. Agenda/ kepentingan yang selalu di suarakan oleh para aktifis Rakom di awal kelahirannya adalah mendobrak monopoli penguasaan frekwensi, yang meskipun merupakan ranah publik namun masih hanya dikuasai oleh segelintir orang. Sampai saat ini kondisi ini tidak berubah malah makin menguat.

Untuk bisa mengudara dengan tenang Rakom butuh frekwensi, lebih jauh dari itu adalah bagaimana rakyat bisa menjadi bagian dari pengelolaan sumber daya alam frekwensi tersebut. Orientasi kepentingan komunitas inilah yang mendorong Rakom memainkan peran yang lebih dari sekedar menghibur dan memberi informasi. Rakom bisa menjadi media pendidikan politik yang potensial. Media pembangunan kesadaran tentang hak dan kewajiban warga sebagai warga negara –paling tidak bisa mendorong masyarakat bersikap kritis-, dan media yang bisa menjadi pendorong meluasnya partisipasi masyarakat dalam memecahkan persoalan yang ada.

Namun, perkembangan yang pesat tidak menjamin Rakom bebas dari persoalan mendasar. Ada tantangan besar bagi pengelola Rakom untuk membuktikan bahwa pengelolaan Rakom bukan hanya sekedar hobi dan hanya dilandasi semangat saja. Tapi mereka harus membuktikan bahwa keberadaan Rakom  sebagai alat untuk membangun kesadaran jadi warga negara yang mengerti etika, hukum, teknologi, dan hubungan social-politik penuh kesetaraan dan kedamaian serta mendorong tumbuhnya ekonomi rakyat di area layanan rakom tersebut.

Rakom pada dasarnya memainkan peran yang hampir sama dengan media massa umum, hanya saja levelnya yang berbeda. Ia berada di level komunitas. Dengan demikian fungsi kontrol sosial, disamping fungsi menghibur, mendidik dan menginformasikan juga menjadi bagian yang penting dari Rakom.

Di sisi lain, kita akan melihat bahwa Rakom merupakan simpul informasi bagi sebuah sistem informasi dalam sebuah komunitas. Peran simpul tersebut adalah memediasi dan merekatkan serta membangun kesadaran komunitas akan arti pentingnya informasi. Selain itu, simpul tersebut juga menjadi alat pendukung bagi penyelesaian masalah, perencanaan kegiatan, pemantauan program dan sebagainya.

Kira-kira itu catatan kecil saya tentang Rakom semoga bisa memberi gambaran sedikit.

Posted in Radio Komunitas, Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Radio Bag for Disaster

Konsep Radio Bag for Disaster

Tas Radio untuk Bencana adalah sebuah tas (ransel/ traveler) yang berisi sebuah stasiun radio siaran yang bisa melakukan siaran langsung di tempat kejadian bencana.

Tas Radio untuk Bencana ini pun di desain supaya mudah digunakan oleh orang yang baru pertama kali menggunakan atau baru berkenalan dengan teknologi informasi.

Tujuan:

  1. Stasiun radio mini yang bisa bergerak cepat ke lokasi bencana
  2. Jadi pusat Informasi Bencana
  3. Tempat sosialisasi kesiapsiagaan manakala terjadi bencana
  4. Tempat berlatih melakukan mitigasi bencana

Bentuk:

Sebuah tas berisi Stasiun Radio siaran mini

Kebutuhan:

  1. SDM        : penyiar, teknisi
  2. Peta informasi Bencana
  3. Sumber energi: listrik, battery, genset, dll.
  4. Alat/ perangkat siaran radio:
  • Pemancar
  • Antenna
  • Microphone
  • Headphone
  • Laptop ( multimedia)
  • Handy Talkie
  • Kabel2
  • Dll.

 Desain Tas untuk Bencana:

Tas ini di desain khusus dengan kriteria modifiaksi untuk tas traveler atau ransel.  Karena medan dan lokasi bencana tidak bisa ditentukan maka tas ini harus mudah dibawa dalam kondisi geografis dan cuaca apapun. Dalam cuaca hujan bisa tahan air dan tahan dingin sedang dalam cuaca panas bisa tahan panas.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

saling melihat :)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

New York, Sebuah kota pertunjukan dan MoMA

Yang saya ingat di New York adalah urusan-urusan yang berkaitan dengan pertunjukan.  Menonton Mamma Mia di Broadway (baca tulisan Ismira Lutfia di BeritaSatu.Com – Budaya – Menikmati “Mamma Mia!” di Panggung Broadway),  Nongkrong di  Ellen’s Stardust sambil melihat para pelayannya bernyanyi. Melihat etalase barang-barang berbagai macam produk di 5th Ave. Mengunjungi Apple store, mencari-cari toko Staples :)   dan melihat Museum Of Modern Art (MoMA).

Secara program, di New York  tidak terlalu padat seperti di Washington. Mungkin karena bertepatan dengan waktu libur  yakni hari sabtu dan minggu yang dilanjut dengan Columbus Day hari senin nya. Jadi long weekend.  Praktis  baru hari Selasa  bisa bertemu dengan Mr. Michael Arena, professor dari The Graduate School of Journalism, City University of New York setelah itu  bertemu dengan Professor Douglas Muzzio  dari Baruch College dan terakhir ke tempat Digital Democracy(http://digital-democracy.org/) .

Tentu saja kami pun mengunjungi gedung United Nation (PBB), NBC dan patung Liberty serta wall Street. Ikon-ikon kota New York. Waktu kami di Wall Street demo sedang berlangsung Occupy Wall Street. Saya masuk berdesak-desakan di antara para demonstran itu dengan niat hanya untuk ikut nampang dan di potret. :)

Continue reading

Posted in Jalan-jalan | 1 Comment

Merasakan Ibu kota federal USA, Washington DC

Pertama kali menginjakan kaki di Washington sore hari menjelang malam. Makan malam pertama di restoran Melayu. Walupun sudah terbang jauh ribuan kilometer dengan waktu lebih dari sehari ketika makan malam rasanya seperti di kampung sendiri. Hal kedua yang dilakukan adalah membeli air mineral dengan ukuran galon kecil. Di kampung orang kami tetap punya kesadaran untuk antisipasi bila terjadi krisis air. :) dan besoknya sarapan pagi dengan kondisi tubuh dan mata yang menyimpan kantuk setelah semalaman tidak bisa tidur karena jetleg. :) hari pertama yang sempurna di ibu kota USA, Washington DC.

Kegiatan pertama sesuai program di Washington  adalah  bertemu dengan wakil pemerintah US dan  IIE  ( Institute of International Education) lembaga yang  mendesain program kegiatan untuk dialog bilateral bidang media antara Indonesia dan USA. Tema besar program adalah ‘The Role of Media in Strengthening Democracy.’ Di kantor IIE yang dibahas adalah soal-soal yang berkaitan dengan hal-hal administrasi selama kita di USA ( Washington dan New York). Setelah dari kantor IIE kita di undang makan siang oleh pemerintah US di The Fourth Estate National Press Club. Sebuah tempat khusus untuk para aktivis press. Tempat tersebut selain digunakan untuk kegiatan-kegiatan pemberian penghargaan terhadap para aktivis pers juga tempat bertemunya para aktivis press dengan anggota kongres, pejabat pemerintah dan juga kalangan bisnis.

Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dari Bandung menuju Washington DC

Satu hal paling  mendebarkan dari perjalanan yang direncanakan adalah ketika waktu persiapan. Memastikan pakaian, alat mandi, dan beberapa perangkat elektronik plus kabel-kabelnya. Memeriksa alat-alat dokumentasi, mencari tahu tempat tujuan dengan browsing di internet, dll.

walapun ini bukan yang pertama saya melakukan perjalanan hampir 25 jam di udara. Tetap saja debaran itu muncul.  Antara semangat,  rasa ingin tahu dan gelisah. Membayangkan saya duduk di dalam pesawat yang menjelajah  celah langit dan menyibak awan bergelombang siang malam. dan kita tak pernah tau pasti apa yang akan terjadi di ketinggian hampir lebih 3000 kaki di atas bumi tersebut.

Dalam situasi seperti itu, sikap paling masuk akal adalah pasrah dan menikmati setiap moment-nya. Continue reading

Posted in Jalan-jalan | Leave a comment

butterfly garden

butterfly garden

taman kupu-kupu di Changi Airport Singapore

Posted in Uncategorized | Leave a comment

tanah katakata

setiap hari kita memakan kata-kata. tanah bagi kisah dan cerita. tumbuhlah di dalamnya dongeng dan puisi cengeng; seperti kata-kata yang diolah dengan pupuk pestisida. menyebar jadi virus di kepala, menghantui ingatan; terus menerus memberi peringatan.  menggiurkan dan menyimpan racun. sehat sekaligus penuh penyakit. paradok yang lucu dari buah yang tumbuh di kata-kata.

aku bertemu dengan  banyak cerita, kisah lucu dan jenaka manusia. aku mengambil buahnya dan kumakan sekedarnya kadang-kadang menumbuhkan-nya menjadikan bibit dari  kisahku sendiri. selanjutnya hanya memberinya air kehidupan dan sedikit pupuk dari kesabaran.

cerita-cerita itu hadir di hidup kita kadang kita menyapanya dengan gembira dan wajah merona kadang dengan sedih merajalela.

Posted in catatan kecil, Puisi | Tagged , , , | Leave a comment

Membaca “Jejak Sajak” Dharmadi

Mulai dengan pertanyaan
Apa yg dimaksud dengan jejak sajak ? apakah jejak dari sajak semata yakni semua hal yg berkaitan dengan kenapa sajak itu hadir atau yang dimasud adalah jejak penulis sajak ? pertanyaan lanjutan dari itu adalah, bagaimana melihat jejak sajak tersebut ? apakah ditanyakan langsung pada penulis-nya dari mana kata-kata yg dipakai dan dalam situasi apa kata-kata itu muncul sehingga menjadi sebuah sajak atau kita sebenarnya sedang di minta oleh penulis sajak untuk membaca sajak-nya karena disitulah (dalam sajak-nya) ada jejak hidup-nya.
Bagi saya kata ‘jejak sajak’ bisa punya dua pengertian itu. Dua pertanyaan dan dua pendekatan untuk melihat. Bila kita mencoba melakukan pendekatan pertama maka yang akan kita lakukan adalah membongkar semua kata yang digunakan Dharmadi dalam sajak-nya. Misal; dari mana inspirasi sajak-nya, keterpengaruhan bahasa sajak-nya, dll. Bila menggunakan pendekatan kedua, maka yang akan kita lakukan adalah kerja antropologis. Mencari tahu kebiasaan dan tingkahlaku Dharamadi dari apa yang telah dia tulis dalam sajak-nya. Continue reading

Posted in catatan kecil | Tagged , , , , , | Leave a comment