merasakan pangandaran yang lain

Gelisah

saya mulai mencatat lagi mungkin disebabkan oleh obrolan tadi sore di madrasah falsafah temanya ‘gelisah.’ mengingat-ngingat lagi tema ini saya mulai menelusuri pernyataan-pernyataan para sastrawan atau pun seniman tentang ‘gelisah.’ pernyataan paling umum yang sering diucapkan oleh para seniman ini adalah ‘gelisah itu sumbu kreatifitas’ tanpa kegelisahan kreatifitas jadi buntu. itu yang sealalu saya ingat dari pernyataan-pernyataan para seniman. pertanyaannya apakah gelisah itu? dan bagaimana gelisah itu tumbuh dan berkembang?

kata ‘gelisah’ seolah-olah udah jadi kata yang setiap kita sudah paham apa maksudnya tapi betulkah kefahaman kita itu sama dengan kefahaman orang lain yang menyatakan tentang gelisah juga. dalam obrolan tadi sore di madrasah falsafah beberapa orang ternyata mempunyai pemahaman sendiri tentang gelisah.  beberapa orang mengatakan ‘gelisah’ itu rasa tidak nyaman sebagian yang lain menyatakan tidak tercapainya harapan dan keinginan ada juga yang mengatakan menunggu kepastian atau ketidaktahuan akan sesuatu. kira-kira itu lah yang terjadi ketika menelusuri apa itu gelisah.

kalau dari awal ada pernyataan kebanyakan seniman tentang gelisah itu energi untuk kreatifitas maka pertanyaanya bisakah gelisah di ciptakan, supaya kreatifitas terus-menerus ada? teman saya Dauz mengatakan bahwa dirinya selalu menciptakan ‘kegelisahan’ sebagai energi kreatifitasnya. saya kok menanggapi tema ini agak cenderung sama dengan persepsi orang pada ‘gelisah’ yang muncul dari belum tercapainya keinginan dan pengharapan artinya gelisah-nya tidak diciptakan tapi keinginan dan harapanya kita ciptakan sehingga gelisah akan terus ada seperti keinginan dan harapan yang terus-menerus kita ciptakan dalam menjalani hidup lebih baik. kira-kira begitulah pikiran saya lain kali saya tambah lagi atau mungkin berubah lagi. ah, jangan-jangan saya sedang gelisah.

Festival Film Prancis 2008

untuk teman-teman yg suka nonton film2 Prancis bulan April 2008 ini festival sinema Prancis akan di gelar di beberapa kota di Indonesia. untuk lebih jelasnya klik aja alamat ini www.sinemaperancis.com

Membaca Radio Komunitas

Perkembangan radio komunitas di Indonesia, saat ini memasuki tahap yang boleh dibilang cukup menggembirakan. Bukan hanya karena telah diakui oleh undang-undang sebagai salah satu lembaga penyiaran yang sah, tetapi juga karena animo masyarakat maupun  para aktivis LSM yang demikian tinggi telah menambah jumlah radio komunitas secara drastis.
Seiring dengan bertambahnya jumlah radio komunitas, sebenarnya mulai tampak pula betapa masih lemahnya existensi dan independensi radio komunitas, mengingat para pengelola dan berbagai pihak yang terkait dengan keberadaan radio komunitas, masih belum memahami benar esensi keberadaan radio komunitas sebagai community empowerment media. Sehingga radio komunitas dipandang hanya sebagai media semata, sama seperti media hiburan yang diselenggarakan oleh industri media. Pemerintah mungkin melihat sisi strategis radio komunitas, sayang mereka terjebak pada pandangan bahwa informasi perlu dikontrol oleh pemerintah sehingga muncul ide Jaringan Komunikasi Sosial dan semacamnya. Keduanya sama tidak menguntungkan bagi exixtensi dan independensi radio komunitas di Indonesia.
Salah satu solusi yang paling mungkin di tempuh untuk tetap menempatkan radio komunitas pada ‘track’nya, adalah dengan melalukan capacity building kepada para pengelola radio komunitas. Salah satu hal yang penting adalah meningkatnya kapasitas pengetahuan terhadap isu-isu social yang lain bagi pengelola radio komunitas. Diharapkan dengan meningkatnya pengetahuan pengelola radio komunitas, dapat mendorong mereka untuk melakukan advokasi dan empowerment kepada radio komunitas masing-masing. Pada gilirannya, ketika radio komunitas telah mapan, sudah semestinya mereka pun mampu menjadi empowerment media bagi komunitas masing-masing.

Pantai Flores (Maumere)

ntt030.jpg

awal tahun 2008 kemarin ada kesempatan jalan ke kota Maumere, Flores untuk bertemu dengan teman-teman yang sedang mengembangkan media komunitas. Walaupun hanya sebentar tapi saya punya kesempatan merasakan pantai Flores,  salah satu  pantai  terindah  yang ada di Indonesia. Suatu sore di pantai Flores ada seorang anak flores dgn nama Jawa yakni Yono menolong saya untuk memotret pantai Flores tentu dengan ada saya di foto tersebut. hehehhehe.

GK3 di Kualalumpur

imanmly.jpg

menghadiri sebuah acara bersekala internasional kadang kita dibuat menjadi sangat kampungan. foto di atas dibuat dari sikap kampungan saya di acara GK3 di Malaysia akhir 2007.

Memperkuat Kelembagaan Radio Komunitas dengan DPK

buleoe12.jpg

Dalam beberapa diskusi yang diadakan oleh Jaringan Radio Komunitas Indonesia dengan para pengelola radio komunitas ditemukanlah fakta bahwa kelemahan radio komunitas masih seputar tidak berfungsinya sistem kelembagaan radio komunitas. Lemahnya sumber daya yang ada di radio komunitas masih menjadi hal utama.

Lemahnya sumber daya pengelolaan radio sebenarnya bukan dirasakan oleh radio komunitas saja tapi oleh hampir semua lembaga penyiaran yang ada di Indonesia. Hanya saja radio komunitas paling sering dituduh lemah SDM nya karena pemain baru dalam sistem penyiaran Indonesia. Dalam konteks radio komunitas ada dua organ penting yang menjadi pendorong sehatnya penyiaran komunitas yakni pengelola radio atau sering disebut PPK dan lembaga representasi komunitas atau sering disebut DPK. Continue reading ‘Memperkuat Kelembagaan Radio Komunitas dengan DPK’

Media Penyiaran Dalam Proses Pilkada

Tayangan TV maupun siaran radio dalam proses pilkada punya potensi besar menciderai demokrasi bila kerja-kerja media tersebut tidak proporsional dan berimbang, ujar Setia Permana, Ketua KPUD Jawa Barat dalam sebuah acara seminar tentang media dan pilkada di akhir tahun 2007.

Kita tau, media massa punya potensi melambungkan orang dan juga punya potensi menenggelamkan orang. Sehingga dalam proses  pemilu atau  Pilkada  akan banyak kandidat yang mencoba membangun citranya lewat media. Bila media tersebut tidak proporsional dan berimbang dalam mengkampanyekan kandidat, kita khawatir  demokrasi hanya untuk orang kaya saja, yang bisa bayar iklan dan jam tayang di media penyiaran. Continue reading ‘Media Penyiaran Dalam Proses Pilkada’

KERETA

cerita pendek Iman Abda

 
Karena tak sedikit pun ruangan yang dibiarkan kosong, maka setiap orang akhirnya berpikir lebih baik diam menunggu. Empat belas jam bukanlah waktu yang pendek, tentu saja. Tapi dalam gerbong yang setiap orang tiba-tiba menjadi sangat egois, kikir dan kadang menunjukan sikap ramah dan kepurapuraan berlebih, maka mempertahankan posisi merupakan sikap yang bias ditolerir.

Karena setiap orang yang ada dalam gerbong kotak dan becek ini menyimpan cerita yang hampir semuanya menyedihkan. Lebih menderita dari rasa kesemutan karena kaki tak bisa di luruskan, belum lagi harus bertahan dari  bau apek serta pesing bermacammacam kotoran basah dan kering. Jadi, sekali lagi, mempertahankan posisi merupakan sikap yang bisa ditolerir.

Satusatunya yang membuat mereka bertahan adalah bayangan tempat tujuan mereka. Namum membayangkan duduk di lantai becek selama empat belas jam bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Bagi mereka yang kebetulan memiliki teman seperjalanan, memilih bicara dengan suara keras, memaksakan topiktopik pembicaraan yang sebenarnya basi atau mengutakatik tekateki silang dan menghisap rokok dalamdalam adalah sebuah pilihan, ketimbang diam saja padahal tak bisa tidur.

Waktu dalam gerbong ini pasti ditakdirkan untuk menjadi binatang melata. Merangkak dengan setia. Selalu mengalah dan tak pernah protes. Seolah pada setiap stasiun yang dijumpainya, ia menjadi sangat pendiam dan bersalah. Menerima nasib membawa orangorang yang tak memiliki inisiatif terhadap hidup sebanyak mungkin. Bahkan seandainya orangorang  itu tak dapat bernafas sekali pun. Continue reading ‘KERETA’

LOMBA PENULISAN ESSAI TENTANG PELESTARIAN FILM INDONESIA TAHUN 2008

14 Maret 2008

Perfilman Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang dan penuh dinamika. Berawal dari tahun 1926,
diproduksi film Loetoeng Kasaroeng yang merupakan film bisu pertama di Indonesia. Sepanjang perjalanannya sampai saat ini, perkembangan perfilman di Indonesia telah mengalami masa-masa jaya dan masa-masa surut. Hal ini tidak dapat lepas dari dinamika berbagai aspek yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia, karena film sebagai karya seni merupakan cerminan diri dari masyarakatnya. Berdasarkan hal itu, maka film-film yang pernah diproduksi di Indonesia beserta semua informasi yang berkaitan dengannya perlu dilestarikan. Karena film merupakan dokumen yang berharga dan sumber pembelajaran masyarakat.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, dan dalam rangka Hari Perfilman yang ke-38 tanggal 30 Maret
2008, Perpustakaan Nasional RI bekerja sama dengan Sinematek Indonesia mengadakan lomba penulisan essai tentang pelestarian film Indonesia.

Topik/Tema Penulisan:

Pendapat, pandangan dan kritik terhadap pelestarian film di Indonesia.

Persyaratan Peserta:

1. Mahasiswa, pustakawan, dan masyarakat umum.
2. Melampirkan fotokopi KTP/SIM/Kartu Mahasiswa/Kartu Karyawan/identitas lain.
3. Melampirkan daftar riwayat hidup.
4. Melampirkan pas foto ukuran 3×4 sebanyak 2 lembar.

Pelaksanaan Lomba:

1. Essai dikirim kepada panitia melaui pos dan paling lambat tanggal 14 Maret 2008 (cap pos).
2. Pengumuman pemenang lomba penulisan akan diumumkan pada hari Rabu, 26 Maret 2008 di  website Perpustakaan Nasional RI: http//www.pnri.go.id.
3. Penyerahan hadiah dilaksanakan pada acara peringatan Hari Film Nasional ke-58 yang akan diselenggarakan pada akhir bulan Maret 2008.
4. Essai terbaik akan dimuat dalam majalah Visi Pustaka terbitan Perpustakaan Nasional RI.

Tata Cara Pengiriman Essai:
1. Peserta lomba dapat mengirimkan lebih dari satu essai;
2. Panjang essai 10-15 halaman, ukuran kertas A4, spasi ½, jenis huruf Times New Roman, ukuran huruf 12.
3. Essai dikirim dalam bentuk cetak rangkap 2 (dua) dan disertai soft file berupa disket atau CD.
4. Essai dikirim kepada panitia selambat-lambatnya tanggal 14 Maret 2008 (cap pos).
5. Naskah lomba dikirimkan dalam sampul tertutup, pada sudut kiri atas dicantumkan kode LPEPFI – 2008, dan dialamatkan kepada Panitia Lomba Penulisan Essai tentang Pelestarian Film Indonesia melalui pos dengan alamat:
a/n MOHAMAD FAJAR
Bidang Kerjasama Perpustakaan dan Otomasi
Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi
Perpustakaan Nasional RI
Jl. Salemba Raya No. 28 A Jakarta Pusat

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Telp. 021-3154864; 3154870 Pswt. 247; 021-3154862
Faks. 021-3103554

Kriteria Penilaian:
1. Essai harus memiliki nilai manfaat bagi pengembangan pengetahuan masyarakat, khusunya mengenai
perfilman nasional;
2. Isi esaai harus asli bukan saduran atau terjemahan.
3. Essai belum pernah/tidak sedang dilombakan.
4. Essai belum pernah dipublikasikan di media apapun.
5. Essai yang menjadi pemenang menjadi hak panitia lomba.
6. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat.

Hadiah:
1. Juara I Rp 5.000.000,- (Lima juta rupiah) dan piagam penghargaan.
2. Juara II Rp 4.000.000,- (Empat juta ribu rupiah) dan piagam penghargaan.
3. Juara III Rp 3.000.000,- (Tiga juta rupiah) dan piagam penghargaan.
4. Juara Harapan I Rp 1.500.000,- (Satu juta lima ratus ribu rupiah).
5. Hadiah dipotong pajak 15%.

Next Page »


senyum kecil

Nasruddin sedang mengendarai untanya ketika segerombolan mahasiswa melakukan aksi demonstrasi penolakan atas kenaikan BBM. Ia bergumam kepada untanya “Untung kamu tidak suka minum BBM!”

 

July 2009
M T W T F S S
« May    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031