Frekuensi bagi radio adalah satu hal yang ga bisa dipisahkan. Maka menjadi penting bagi radio komunitas untuk mendapatkan alokasi frekuensi yang adil dan setara. Continue reading ‘RADIO KOMUNITAS DAN ALOKASI FREKUENSI’
Archive for February 14th, 2008
Informasi adalah kekuatan atau kekuasaan, jadi apabila kita menginginkan terwujudnya kedaulatan rakyat, maka, tidak boleh tidak kita harus membangun masyarakat yang mampu menguasai dan mengelola informasi. Begitu kira-kira filosofi dibalik gencarnya upaya untuk membangun masyarakat informasi oleh beberapa kalangan di Indonesia. Continue reading ‘Membangun Masyarakat Informasi’
Perkembangan media komunitas memiliki peran penting dalam membangun kesadaran publik dan mendorong terciptanya aliran informasi dua arah. Di Indonesia kata “media komunitas” mulai dipakai oleh masyarakat pada awal tahun 2000 dengan muncul buletin komunitas “Angkringan” yang digagas oleh sekelompok anak muda di Timbulharjo, Yogyakarta, buletin Forum Warga Kamal Muara, “Fokkal” buletin Forum Warga Kalibaru dan beberapa Forum Warga di Bandung. Memasuki tahun 2001, kelompok anak muda yang mengelola buletin Angkringan di Timbulharjo mulai mengembangkan radio komunitas, yang mereka sebut Radio Angkringan FM, kemudian menginspirasi Paguyuban Pengembangan Informasi Terpadu (PINTER) di Terban Yogyakarta untuk mendirikan Panagati FM, Forum Warga Cibangkong (FWC) mendirikan radio komunitas Cibangkong di Bandung, Forum Masyarakat Majalaya Sejahtera (FM2S) mendirikan radio komunitas Majalaya Sejahtera (MASE) dan Forum Komunikasi Warga Kamal Muara mendirikan radio komunitas Kamal Muara di Jakarta. Continue reading ‘Sejarah dan Perkembangan Radio Komunitas’
cicak, rindukah itu
masa kecil yang menyerbu duniaku
menggema di gendang telinga
membentuk garis rahasia semacam baris puisi;
cicak, gairah apakah ini
menyelusup tulang sumsum dan darahku
menyerap cinta dari tanah rindu dendamku
mewujud air
mewujud api
bergema bersama suara seperti prahara
cicak, ini puisi untukmu
menghijau bagai daun-daun segar
membiru langit di keheningan senja
menggaris biru semesta di tubuhku
semacam botol harapan di kemudaan
aku teguk jadi kehidupan
cicak, kenangankah itu
danau bening di kedua matamu
mungkin beban hidup kesunyian menjemput maut;
secangkir teh, kue, dan buku puisi
terhidang di meja bersama sepatu
dua pakaian satu celana menggantung di halaman
semacam suasana tak direncanakan
menggerakkan pena jadi pedang sempurna
menebas kehawatiran hidup terlena
mengisengi kesunyian dengan cinta
(merah muda yang tergambar di dadamu
ya, dadamu yang ranum dengan puisi)
cicak, rindukah itu
masa kecil yang menyerbu duniaku
menggema di gendang telinga
membentuk garis rahasia
semacam baris puisi;
ucapan biasa sebiasa bahagia biasa tersenyum
sesederhana kata yang membiru di semesta tubuhku
Iman Abda, 2002
suatu sore yang gugup, pokemon menutup mata menjulurkan lidah naga mengeluarkan kata penuh prasangka. sebatang coklat di sebuah sudut kenangan sama gelisah dengan raut mukanya.
di sudut mimpi aku masih terus menguras sperma, air mata dan darah mudaku dengan menulis puisi di jalanjalan, wc umum, dan kamar mandi tanpa siang.
air mata kematangan jiwa adalah wajah duka yang lain. wajah dengan seribu malapetaka dan kengerian. wajah pokemon yang dibakar dendam dan sebatang coklat kehilangan lembut-manisnya.
di dunia fiksi, mungkin dimensi ke-7 dari harapan, aku kehilangan semangat untuk mencacimaki kelebihan memujamuji kekejian. terkurasnya lautan dalam terik tujuh matahari. sempurnannya surga kematian tak begitu lebih luka dari bermilyar gigitan serigala di hatiku. tanah darah tempat duka bertapa sempurna.
kegilaan memang tidak sesempurna perjalanan matamu yang memberi tanda duka dan cerita prahara sebuah kota tanpa garis, mungkin kota yang kita kenal atau kota yang diam-diam dibakar kegelisahan.
Iman Abda, 2001
: buah apel
‘inilah revolusi kata, revolusi tangan dan jiwa, revolusi hati kita’
buah apelku, kamu tahu bukan, warna cinta selain warna matamu
ya, itu dia semesta warna senyummu
buah apelku, kamu tahu bukan, warna cinta selain warna senyummu
ya, itu dia semesta warna hatimu
bila kemudian akar pohon, hijau daun, dan ranting-ranting gugur satu persatu di jiwamu, lepaskan saja cahaya itu menuju arah bintang di dada
buah apelku, kamu tahu bukan, warna cinta selain warna darahmu
ya, itu dia peluru dan batu-batu di kotamu
buah apelku, kamu tahu bukan, warna cinta selain warna tulangmu
ya, itu dia air mata dan duka cita di jantungmu
bila kemudian api mudamu membakar kota-kota, mall-mall, bioskop-bioskop, buku-buku, lepaskan saja kegilaan biar semua menjadi anjing di kepala
‘pandanglah ke dalam diri: jangan lari!, ini satu revolusi: tanpa ambisi untuk mengubah dunia, tanpa dendam atau perasaan terhina, tanpa kebencian atau salvo senjata’
Iman Abda, 2003
ketika itu, 20 ribu kilometer dari kelahiran
aku berada di kota dengan udara sesegar senja
beberapa menit dari keheningan
gemuruh dan suara gaduh merajam telinga
melukai cakrawala kecemasan
meretakan masa kanak-kanak
membakar ladang-ladang petani
meracuni rumah-rumah nelayan
televisi merencanakan kebohongan menjadi kebenaran
aku bisikan padamu kata-kata lembut cinta:
revolusi harus di mulai, karena penindasan di manapun tetap abadi
‘rebut udara milik kita!’
Iman Abda, 2006
aku merumahkan puisi dari beberapa senyum kecil dan kabar gembira
kata-kata lembut cinta, revolusi hati dan jiwa
aku merumahkan puisi dari menu makan kegelisahan;
kopi dan gula habis sebelum jadwal yang ditetapkan
beras habis sebelum terhidang di perjamuan
rambutku habis sebelum badan di makan fikiran
dan pertanyaan ‘besok bisakah pergi ke pasar?’
aku merumahkan puisi
dari harga keringat yang tidak bisa mencukupi ongkos dapur
dari harga minyak penyebab kesedihan meja makan
dari matahati jiwaraga kegelisahan
matahati jiwaraga cinta
Iman Abda, 2006