CICAK DAN GARIS BIRU SEMESTA DI TUBUHKU

cicak, rindukah itu

masa kecil yang menyerbu duniaku

menggema di gendang telinga

membentuk garis rahasia semacam baris puisi;

 

cicak, gairah apakah ini

menyelusup tulang sumsum dan darahku

menyerap cinta dari tanah rindu dendamku

mewujud air

mewujud api

bergema bersama suara  seperti prahara

 

cicak, ini puisi untukmu

menghijau bagai daun-daun segar

membiru langit di keheningan senja

menggaris biru semesta di tubuhku

semacam botol harapan di kemudaan

aku teguk jadi kehidupan

 

cicak, kenangankah itu

danau bening di kedua matamu

mungkin beban hidup kesunyian menjemput maut;

secangkir teh, kue, dan buku puisi

terhidang di meja bersama sepatu

dua pakaian satu celana menggantung di halaman

semacam suasana tak direncanakan

menggerakkan pena jadi pedang sempurna

menebas kehawatiran hidup terlena

mengisengi kesunyian dengan cinta

(merah muda yang tergambar di dadamu

ya, dadamu yang ranum dengan puisi)

 

cicak, rindukah itu

masa kecil yang menyerbu duniaku

menggema di gendang telinga

membentuk garis rahasia

semacam baris puisi;

ucapan biasa sebiasa bahagia biasa tersenyum

sesederhana kata yang membiru di semesta tubuhku

 

Iman Abda, 2002

0 Responses to “CICAK DAN GARIS BIRU SEMESTA DI TUBUHKU”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply




senyum kecil

Nasruddin sedang mengendarai untanya ketika segerombolan mahasiswa melakukan aksi demonstrasi penolakan atas kenaikan BBM. Ia bergumam kepada untanya “Untung kamu tidak suka minum BBM!”

 

February 2008
M T W T F S S
    Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829