Archive for the 'catatan kecil' Category

Gelisah

saya mulai mencatat lagi mungkin disebabkan oleh obrolan tadi sore di madrasah falsafah temanya ‘gelisah.’ mengingat-ngingat lagi tema ini saya mulai menelusuri pernyataan-pernyataan para sastrawan atau pun seniman tentang ‘gelisah.’ pernyataan paling umum yang sering diucapkan oleh para seniman ini adalah ‘gelisah itu sumbu kreatifitas’ tanpa kegelisahan kreatifitas jadi buntu. itu yang sealalu saya ingat dari pernyataan-pernyataan para seniman. pertanyaannya apakah gelisah itu? dan bagaimana gelisah itu tumbuh dan berkembang?

kata ‘gelisah’ seolah-olah udah jadi kata yang setiap kita sudah paham apa maksudnya tapi betulkah kefahaman kita itu sama dengan kefahaman orang lain yang menyatakan tentang gelisah juga. dalam obrolan tadi sore di madrasah falsafah beberapa orang ternyata mempunyai pemahaman sendiri tentang gelisah.  beberapa orang mengatakan ‘gelisah’ itu rasa tidak nyaman sebagian yang lain menyatakan tidak tercapainya harapan dan keinginan ada juga yang mengatakan menunggu kepastian atau ketidaktahuan akan sesuatu. kira-kira itu lah yang terjadi ketika menelusuri apa itu gelisah.

kalau dari awal ada pernyataan kebanyakan seniman tentang gelisah itu energi untuk kreatifitas maka pertanyaanya bisakah gelisah di ciptakan, supaya kreatifitas terus-menerus ada? teman saya Dauz mengatakan bahwa dirinya selalu menciptakan ‘kegelisahan’ sebagai energi kreatifitasnya. saya kok menanggapi tema ini agak cenderung sama dengan persepsi orang pada ‘gelisah’ yang muncul dari belum tercapainya keinginan dan pengharapan artinya gelisah-nya tidak diciptakan tapi keinginan dan harapanya kita ciptakan sehingga gelisah akan terus ada seperti keinginan dan harapan yang terus-menerus kita ciptakan dalam menjalani hidup lebih baik. kira-kira begitulah pikiran saya lain kali saya tambah lagi atau mungkin berubah lagi. ah, jangan-jangan saya sedang gelisah.

Membaca Radio Komunitas

Perkembangan radio komunitas di Indonesia, saat ini memasuki tahap yang boleh dibilang cukup menggembirakan. Bukan hanya karena telah diakui oleh undang-undang sebagai salah satu lembaga penyiaran yang sah, tetapi juga karena animo masyarakat maupun  para aktivis LSM yang demikian tinggi telah menambah jumlah radio komunitas secara drastis.
Seiring dengan bertambahnya jumlah radio komunitas, sebenarnya mulai tampak pula betapa masih lemahnya existensi dan independensi radio komunitas, mengingat para pengelola dan berbagai pihak yang terkait dengan keberadaan radio komunitas, masih belum memahami benar esensi keberadaan radio komunitas sebagai community empowerment media. Sehingga radio komunitas dipandang hanya sebagai media semata, sama seperti media hiburan yang diselenggarakan oleh industri media. Pemerintah mungkin melihat sisi strategis radio komunitas, sayang mereka terjebak pada pandangan bahwa informasi perlu dikontrol oleh pemerintah sehingga muncul ide Jaringan Komunikasi Sosial dan semacamnya. Keduanya sama tidak menguntungkan bagi exixtensi dan independensi radio komunitas di Indonesia.
Salah satu solusi yang paling mungkin di tempuh untuk tetap menempatkan radio komunitas pada ‘track’nya, adalah dengan melalukan capacity building kepada para pengelola radio komunitas. Salah satu hal yang penting adalah meningkatnya kapasitas pengetahuan terhadap isu-isu social yang lain bagi pengelola radio komunitas. Diharapkan dengan meningkatnya pengetahuan pengelola radio komunitas, dapat mendorong mereka untuk melakukan advokasi dan empowerment kepada radio komunitas masing-masing. Pada gilirannya, ketika radio komunitas telah mapan, sudah semestinya mereka pun mampu menjadi empowerment media bagi komunitas masing-masing.

Media Penyiaran Dalam Proses Pilkada

Tayangan TV maupun siaran radio dalam proses pilkada punya potensi besar menciderai demokrasi bila kerja-kerja media tersebut tidak proporsional dan berimbang, ujar Setia Permana, Ketua KPUD Jawa Barat dalam sebuah acara seminar tentang media dan pilkada di akhir tahun 2007.

Kita tau, media massa punya potensi melambungkan orang dan juga punya potensi menenggelamkan orang. Sehingga dalam proses  pemilu atau  Pilkada  akan banyak kandidat yang mencoba membangun citranya lewat media. Bila media tersebut tidak proporsional dan berimbang dalam mengkampanyekan kandidat, kita khawatir  demokrasi hanya untuk orang kaya saja, yang bisa bayar iklan dan jam tayang di media penyiaran. Continue reading ‘Media Penyiaran Dalam Proses Pilkada’


senyum kecil

Nasruddin sedang mengendarai untanya ketika segerombolan mahasiswa melakukan aksi demonstrasi penolakan atas kenaikan BBM. Ia bergumam kepada untanya “Untung kamu tidak suka minum BBM!”

 

November 2009
M T W T F S S
« May    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30