Category Archives: Puisi

tanah katakata

setiap hari kita memakan kata-kata. tanah bagi kisah dan cerita. tumbuhlah di dalamnya dongeng dan puisi cengeng; seperti kata-kata yang diolah dengan pupuk pestisida. menyebar jadi virus di kepala, menghantui ingatan; terus menerus memberi peringatan.  menggiurkan dan menyimpan racun. sehat … Continue reading

Posted in catatan kecil, Puisi | Tagged , , , | Leave a comment

CICAK DAN GARIS BIRU SEMESTA DI TUBUHKU

cicak, rindukah itu masa kecil yang menyerbu duniaku menggema di gendang telinga membentuk garis rahasia semacam baris puisi;   cicak, gairah apakah ini menyelusup tulang sumsum dan darahku menyerap cinta dari tanah rindu dendamku mewujud air mewujud api bergema bersama … Continue reading

Posted in Puisi | 1 Comment

POKEMON, SEBATANG COKLAT DAN LUKA KOTA

suatu sore yang gugup, pokemon menutup mata menjulurkan lidah naga mengeluarkan kata penuh prasangka. sebatang coklat di sebuah sudut kenangan sama gelisah dengan raut mukanya. di sudut mimpi aku masih terus menguras sperma, air mata dan darah mudaku dengan menulis … Continue reading

Posted in Puisi | Leave a comment

dari kosong menuju semesta

: buah apel ‘inilah revolusi kata, revolusi tangan dan jiwa, revolusi hati kita’   buah apelku, kamu tahu bukan, warna cinta selain warna matamu ya, itu dia semesta warna senyummu buah apelku, kamu tahu bukan, warna cinta selain warna senyummu … Continue reading

Posted in Puisi | Leave a comment

Udara Milik Kita

ketika itu, 20 ribu kilometer dari kelahiran aku berada di kota dengan udara sesegar senja beberapa menit dari keheningan gemuruh dan suara gaduh merajam telinga melukai cakrawala kecemasan meretakan masa kanak-kanak membakar ladang-ladang petani meracuni rumah-rumah nelayan televisi merencanakan kebohongan … Continue reading

Posted in Puisi | Leave a comment

Rumah Puisi

  aku merumahkan puisi dari beberapa senyum kecil dan kabar gembira kata-kata lembut cinta, revolusi hati dan jiwa aku merumahkan puisi dari menu makan kegelisahan; kopi dan gula habis sebelum jadwal yang ditetapkan beras habis sebelum terhidang di perjamuan rambutku … Continue reading

Posted in Puisi | Leave a comment