catatan senyuman

Mengenal Masyarakat Informasi

Apakah masyarakat informasi itu? Sewaktu mulai membangun gambaran tentang masyarakat informasi akan kita pahami bahwa ia bukan hanya sebagai hasil dari atau sama dengan teknologi informasi, tetapi lebih sebagai hasil dari saling-mempengaruhi antara masyarakat dan dinamika teknologi, termasuk:

perkembangan dalam pemrosesan informasi dan telekomunikasi, dan meningkatnya keterkaitan di antara teknologi-teknologi tersebut;

munculnya masyarakat yang terdidik dan sarat informasi, serta kelompok-kelompok lintas kepentingan yang terorganisir untuk menuntut peran dalam proses tata kelola;

meningkatnya pengaruh dan jangkauan media massa;

meningkatnya spesialisasi dalam kegiatan ekonomi yang berbasis pengetahuan dan perubahan struktur kerja yang menyertainya, dan

infrastruktur organisasi publik dan privat yang lebih baik, dengan interaksi (kolaboratif maupun bertengkar) di antara organisasi-organisasi tersebut.

Masyarakat informasi dikenali sebagai suatu masyarakat yang kompleks dan saling terhubung dengan baik: segalanya terlihat saling terhubung dengan sesuatu yang lain. Hal ini dicirikan dengan besarnya peningkatan dalam ketersediaan informasi (termasuk adanya kelebihan beban, pemilahan, pemilihan dan pengabaian), pemampatan waktu maupun ruang, dan meningkatnya kekacauan dan ketidakpastian. Di antara karakteristik yang terpenting yang terkait dengan proses tata kelola adalah:

Globalisasi. Contoh-contoh yang termasuk globalisasi ekonomi (bursa saham yang saling terhubung; pasar modal yang tanpa batas; globalisasi teknologi, produksi dan pemasaran; rasionalisasi bisnis berskala regional danterutama global) perembesan pengaruh dari globalisasi iptek; mulainya budaya popular global; berkembangnya kebutuhan akan forum supranasional, jejaring, dan organisasi-organisasi yang bergerak dalam bidang perdagangan, lingkungan, hak asasi manusia dll.

Atomisasi, demokratisasi, dan fragmentasi. Kecenderungan ini tercermin dari meningkatnya kekuasaan pemerintahan daerah, tumbuhnya regionalisme dan fragmentasi negara-negara multikultural, dan proliferasi suara: yakni meningkatnya jumlah pengorganisasian kelompok untuk berperan dalam proses tata kelola.

Penyederhanaan model organisasi birokrasi/industri. Baik sektor publik maupun sektor swasta melakukan perampingan, membuang manajemen menengahnya dan mempercayakan ke pihak-pihak luar beberapa pekerjaannya (dalam sektor publik terjadi privatisasi), dan lebih bertumpu pada jaringan gugus tugas dan berbagai bentuk pengorganisasian yang lebih fleksibel, terdesentralisasi, dan “client-centered”.

Semakin pentingnya SDM yang berkualitas. Baik pada sektor publik maupun sektor swasta, SDM berkualifikasi tinggi (mampu mengelola sejumlah besar informasi, membangun hubungan kerja yang efektif baik di dalam maupun di luar organisasi, membuat penilaian/keputusan, dan melakukan inovasi) menjadi aset kunci organisasi.

Semakin sulitnya menjaga rahasia. Informasi semakin mudah mengalami kebocoran, dan secara umum masyarakat di luar pemerintahan memiliki akses informasi yang lebih besar ketimbang masa-masa sebelumnya. Hal ini memiliki implikasi serius dalam pengelolaan sistem yang bertumpu pada derajat tertentu kerahasiaan.

Perubahan batas-batas dan restrukturisasi mendasar. Batas-batas di masa lalu di antara industri-industri, antara sektor publik dan swasta, bahkan antar negara menjadi kabur dan berubah, segera mencari bentuk-bentuk hubungan dan aliansi baru antar entitas tersebut. Dalam waktu bersamaan, perbedaan yang radikal antara sumber daya informasi dan material membutuhkan pemikiran ulang terhadap berbagai asumsi dasarnya.

Harland Cleveland, menyusun garis besar perbedaan antara sumber daya informasi dan material sebagai berikut:

  1. Informasi mudah berkembang. Ia akan berkembang bila digunakan
  2. Informasi tidak rakus sumber daya. Kebutuhan akan energi dan sumber daya fisik atau biologis yang lain sungguh hemat dalam proses produksi dan distribusi informasi.
  3. Informasi dapat menjadi pengganti. Ia bisa dan telah semakin banyak menggantikan modal, tenaga kerja, dan material fisik.
  4. Informasi mudah dipindahkan — bahkan hampir mendekati kecepatan cahaya
  5. Informasi bersifat mudah merembes. Berkecenderungan untuk bocor. Kebocoran informasi bersifat menyeluruh, meresap, dan menerus… Memonopoli informasi merupakan hal yang kontradiktif dengan fitrahnya.
  6. Informasi itu bisa dimanfaatkan bersama. Jika saya menjual mobil saya kepada anda, maka jadilah anda pemilik mobil itu dan saya tidak lagi. Tetapi bila saya menjual gagasan saya kepada anda atau memberi anda suatu fakta, maka kita berdua akan memilikinya.

Walau istilah ‘masyarakat informasi’ sering membangkitkan citra berbagai teknologi yang menjadi sebab-sebab kemunculannya, pertanda dari masyarakat tersebut adalah meningkatnya interkoneksi baik dalam lingkup nasional maupun lintas nasional. Ini adalah tantangan besar yang dihadapi oleh masyarakat informasi dalam tata kelola. Dengan terwujudnya masyarakat yang saling terhubung, kita akan kehilangan batas-batas. Walaupun batas-batas merupakan bagian penting dari identitas, organisasi, budaya, dan tata kelola. Dengan demikian kita akan terlibat dalam upaya terus menerus untuk merumuskan kembali batas-batas tersebut, dan mengembangkan cara-cara yang lebih efektif untuk bekerja lintas batas.

Kita sedang menjelajahi wilayah yang tidak memiliki peta yang memadai. Tidak memadainya perangkat konseptual untuk menalar pembiakan dan jenis-jenis informasi yang tak dikenali sering dilukiskan dan dialami sebagai ‘kelebihan informasi’. Namun akan lebih tepat dan bermanfaat bila kita melihat masalah tersebut sebagai kurangnya kemampuan kerangka pikir dan metoda interpretasi yang kita miliki untuk menerjemah-kan data dan informasi tersebut menjadi pengetahuan yang bermakna. Berikut ini adalah pembedaan yang dirumuskan oleh Harland Cleveland:

Data adalah bahan baku yang belum diolah, kumpulan fakta-fakta yang belum dipilah dan tanpa konteks.

Informasi adalah bahan yang sudah diolah, data yang telah dipilah dan terorgani-sasi, tetapi belum terinternalisasi (seperti surat kabar yang belum dibaca, tentu informasinya belum kita ambil)

Pengetahuan adalah informasi yang telah kita internalisasikan (menjadi bagian yang terintegrasi dengan kerangka internal kita).

Sebuah tantangan yang penting bagi kepemimpinan dan tata kelola dalam masyarakat informasi adalah memimpin proses interpretasi – mempelajari cara-cara yang efektif dalam membangun ‘peta mental’ yang baru, dan ‘menyepakati’ kerangka interpretasi yang akan digunakan untuk menerjemahkan pembiakan informasi ke dalam makna-makna kolektif (shared meanings). Makna-makna kolektif merupakan landasan penting untuk melegitimasi tindakan kolektif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 12, 2008 by in Artikel.
%d bloggers like this: