catatan senyuman

Membangun Masyarakat Informasi

Informasi adalah kekuatan atau kekuasaan, jadi apabila kita menginginkan terwujudnya kedaulatan rakyat, maka, tidak boleh tidak kita harus membangun masyarakat yang mampu menguasai dan mengelola informasi. Begitu kira-kira filosofi dibalik gencarnya upaya untuk membangun masyarakat informasi oleh beberapa kalangan di Indonesia. Upaya tersebut tak kurang dilakukan oleh beberapa BUMN, LSM, perguruan tinggi, media massa, dan lembaga-lembaga komunitas.

Namun, upaya mengembangkan sistem informasi berbasis masyarakat yang implementable adalah sebuah perjalanan memasuki “ruang publik” yang telah lama dibiarkan menjadi “the lost space”. Ruang yang tidak bertuan. Bukan suatu hal yang mudah bagi masyarakat untuk menguasainya kembali, seperti ketika sistem kekerabatan di suatu kampung begitu kohesif, sehingga ranah sosial seseorang begitu luasnya, bahkan dua kilometer dari alamat yang kita tuju pun kita sudah bisa bertanya di mana letak rumah si Fulan. Ketika itu, semua rumahpun seolah memiliki telinga. Informasi tentang adanya teknologi baru -misalnya: biogas atau listrik tenaga surya- dengan cepat akan tersebar melalui para tokoh dan simpul informasi warga, sehingga dengan mudah dapat menjadi pengetahuan kolektif baru, dan selanjutnya sejalan dengan waktu, dapat pula diadaptasi menjadi pengetahuan/teknologi lokal.

Sistem kekerabatan atau relasi sosial dan nilai-nilai kolektif, yang dewasa ini dikenal sebagai modal social itu sebagian besar telah punah, harus kita gali kembali dari kuburnya. Dari gambaran di atas jelaslah bahwa pengembangan sistem informasi yang bertumpu pada masyarakat akan sulit dilakukan tanpa membangun institusi warga sebagai infrastruktur sosialnya. Lalu sistem informasi itu sendiri harus dapat menjadi bagian dari suatu komunitas, misalnya: dalam komunitas nelayan, ia harus mengenal berbagai persoalan dalam kehidupan nelayan; dalam kehidupan petani juga demikian. Selanjutnya sistem informasi itu juga diharapkan mampu membangun pengetahuan kolektif dan memberi arah untuk pemecahan masalah/konflik, bahkan mampu memicu terjadinya inovasi. Istilah yang tepat untuk yang terakhir ini adalah sistem informasi yang cerdas.

Untuk kepentingan yang lebih besar, misalnya, pembangunan wilayah dan kota, sistem informasi ini perlu juga diberi muatan yang telah diolah khusus menjadi bahan untuk pengambilan keputusan strategis, misalnya, isyu-isyu tentang otonomi daerah, local good governance, tata ruang yang produktif dan berkeadilan, manajemen sumber daya yang aksesibel, transparan, dan akuntabel, dan seterusnya.

Dengan demikian, paling tidak, ada dua pilar utama dalam pengembangan sistem informasi yang bertumpu pada masyarakat, yaitu: pilar kelembagaan, yang diharapkan dapat memiliki sifat-sifat: demokratis, non-diskriminatif, transparan, dan akuntabel, dan pilar sistem informasi, yang diharapkan dapat memiliki sifat-sifat: strategis dan cerdas.

Kedua pilar tersebut bisa diperan-fungsikan oleh radio komunitas dan jaringan radio komunitas.

Pilar Pertama: Kelembagaan

Kelembagaan adalah bagian yang terpenting di dalam bangunan masyarakat informasi, bisa dikatakan sebagai tulang punggungnya. Indonesia, saat ini sedang dalam masa transisi dari otoritarianisme ke demokrasi. Dalam periode transisi ini, perubahan kelembagaan pemerintah di aras lokal (kabupaten/kota) ke arah yang demokratis, transparan, bersih, dan tanggap terhadap kebutuhan lokal (komunitas) berlangsung dengan sangat lambat. Kelambatan proses transisi tersebut karena unsur-unsur birokrasi pemerintah cenderung mempertahankan kontrol terpusat atas masyarakat.

Untuk dapat melakukan tekanan (leverage) dan kontrol terhadap pemerintah, kalangan marginal di tingkat komunitas perlu diberdayakan. Pemberdayaan kalangan marjinal harus mengikut-sertakan kalangan-kalangan menengah di komunitas. Kalangan marginal difasilitasi untuk melakukan dua hal: mengidentifikasi kebutuhan pembangunan mereka, dan mengidentifikasi potensi pembangunan yang bisa dimobilisasi sebagai kekuatan swadya dalam memenuhi kebutuhan mereka. Dengan demikian kalangan menengah tidak memandang kalangan marginal sebagai beban.

Untuk mempercepat proses transisi, dan sekaligus mengartikulasikan kepentingan komunitas, jaringan masyarakat sipil (civil society) di tingkat kabupaten/kota perlu diaktifkan sebagai sistem pendukung komunitas yang mengolah dan mengemas informasi yang dikumpulkan oleh radio komunitas untuk dijadikan alat bantu menekan dan mengkontrol birokrasi pemerintah di tingkat desa atau kabupaten/kota melalui jaringan radio komunitas dan masyarakat sipil.

Pilar Kedua: Sistem Informasi

Bila pilar kelembagaan merupakan tubuh dan jiwa kolektif masyarakat, maka pilar sistem informasi merupakan pengelola muatan (content management) potensi, masalah, dan kebutuhan kolektif masyarakat. Sistem informasi juga memfasilitasi kegiatan pembelajaran kolektif untuk membangun pengetahuan, keterampilan dan motivasi masyarakat. Di dalam pilar kedua inilah peran-fungsi radio komunitas harus sangat maksimal.

Radio komunitas perlu mengembangkan sistem informasi berbasis komunitas yang dapat menjadi wahana untuk:

a. membangun pengetahuan kolektif antar warga dan antar komunitas yang mendorong munculnya berbagai pemikiran untuk terus-menerus memperbaiki keadaan;

b. mendorong tumbuhnya berbagai kearifan lokal yang mampu memenuhi kebutuhan, mengatasi masalah dan konflik dengan memperhatikan potensi/ muatan lokal;

c. membangun hubungan-hubungan dan sistem nilai komunitas yang produktif, dan berkeadilan

Untuk membangun isi informasi yang akurat dan terkini (up to date), tekanan pada pembentukan pilar kelembagaan lokal yang demokratis, inklusif, dan partisipatoris harus dibarengi dengan upaya memfasilitasi pembentukan pilar informasi yang bersifat problem solving. Warga suatu komunitas baru mau berpartisipasi aktif apabila mereka yakin bahwa database yang dibangun akan membantu mereka memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan mereka. Upaya pembentukan database yang bersifat problem solving diawali dengan pelatihan teknik-teknik Participatory Rapid Appraisal (PRA). Apabila database tidak bersifat problem solving, tidak akan ada insentif bagi komunitas untuk melakukan pengumpulan dan updating data dan informasi.

Upaya untuk menjaga keberlanjutan database komunitas tidak hanya dilakukan pada sisi pengumpulan informasi, yaitu mengupayakan agar karakter database bersifat problem solving, tapi juga pada distribusi informasi, yaitu menjaga supaya aliran informasi terjadi dua arah. Komunikasi dijaga mengalir dua arah, yaitu dari komunitas ke stakeholders di perkotaan dan sebaliknya. Dan inilah tugas berat radio komunitas dan jaringannya.

One comment on “Membangun Masyarakat Informasi

  1. badrus zaman
    February 21, 2008

    perubahan situasi sosial politik yang ditandai dengan era keterbukaan sosial politik yang saat ini terjadi ( otonomi daerah, kebebasan politik dll) tidak diikuti oleh peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengisi ruang yang tersedia secara kelembagaan dan artikulasi problem solving yang tidak muncul itulah yang membuat berjalannya proses pembangunnan komunitas tersendat sendat .karena situasi yang terjadi hanya dimanfaatkan oleh “oligarkhis” atas nama rakyat.
    Terobosan lebih lanjut menurut saya tidak sekedar melalui radio komunitas , pada situasi berbeda seperti didaerah urban atau perkotaan bisa memanfaatkan jalur informasi lain dengan pendekatan komunitas.seperti yang kami lakukan dengan melakukan terobosan melalui penetrasi Mobile phone ( HP ) melalui fitur SMS-nya ,tahun ini kami sedang merintis hal tersebut di kabupaten sidoarjo dalam bentuk Mobile social net ,
    Tks

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 14, 2008 by in Radio Komunitas.
%d bloggers like this: