catatan senyuman

POKEMON, SEBATANG COKLAT DAN LUKA KOTA

suatu sore yang gugup, pokemon menutup mata menjulurkan lidah naga mengeluarkan kata penuh prasangka. sebatang coklat di sebuah sudut kenangan sama gelisah dengan raut mukanya.

di sudut mimpi aku masih terus menguras sperma, air mata dan darah mudaku dengan menulis puisi di jalanjalan, wc umum, dan kamar mandi tanpa siang.

air mata kematangan jiwa adalah wajah duka yang lain. wajah dengan seribu malapetaka dan kengerian. wajah pokemon yang dibakar dendam dan sebatang coklat kehilangan lembut-manisnya.

di dunia fiksi, mungkin dimensi ke-7 dari harapan, aku kehilangan semangat untuk mencacimaki kelebihan memujamuji kekejian. terkurasnya lautan dalam terik tujuh matahari. sempurnannya surga kematian tak begitu lebih luka dari bermilyar gigitan serigala di hatiku. tanah darah tempat duka bertapa sempurna.

kegilaan memang tidak sesempurna perjalanan matamu yang memberi tanda duka dan cerita prahara sebuah kota tanpa garis, mungkin kota yang kita kenal atau kota yang diam-diam dibakar kegelisahan.

 

Iman Abda, 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 14, 2008 by in semacam puisi.
%d bloggers like this: