catatan senyuman

Udara Milik Kita

ketika itu, 20 ribu kilometer dari kelahiran

aku berada di kota dengan udara sesegar senja

beberapa menit dari keheningan

gemuruh dan suara gaduh merajam telinga

melukai cakrawala kecemasan

meretakan masa kanak-kanak

membakar ladang-ladang petani

meracuni rumah-rumah nelayan

televisi merencanakan kebohongan menjadi kebenaran

aku bisikan padamu kata-kata lembut cinta:

revolusi harus di mulai, karena penindasan di manapun tetap abadi

‘rebut udara milik kita!’

Iman Abda, 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 14, 2008 by in semacam puisi.
%d bloggers like this: