catatan senyuman

Membaca “Jejak Sajak” Dharmadi

Mulai dengan pertanyaan
Apa yg dimaksud dengan jejak sajak ? apakah jejak dari sajak semata yakni semua hal yg berkaitan dengan kenapa sajak itu hadir atau yang dimasud adalah jejak penulis sajak ? pertanyaan lanjutan dari itu adalah, bagaimana melihat jejak sajak tersebut ? apakah ditanyakan langsung pada penulis-nya dari mana kata-kata yg dipakai dan dalam situasi apa kata-kata itu muncul sehingga menjadi sebuah sajak atau kita sebenarnya sedang di minta oleh penulis sajak untuk membaca sajak-nya karena disitulah (dalam sajak-nya) ada jejak hidup-nya.
Bagi saya kata ‘jejak sajak’ bisa punya dua pengertian itu. Dua pertanyaan dan dua pendekatan untuk melihat. Bila kita mencoba melakukan pendekatan pertama maka yang akan kita lakukan adalah membongkar semua kata yang digunakan Dharmadi dalam sajak-nya. Misal; dari mana inspirasi sajak-nya, keterpengaruhan bahasa sajak-nya, dll. Bila menggunakan pendekatan kedua, maka yang akan kita lakukan adalah kerja antropologis. Mencari tahu kebiasaan dan tingkahlaku Dharamadi dari apa yang telah dia tulis dalam sajak-nya.
Kedua pendekatan itu sama-sama punya resiko, yakni tidak akan bisa melihat secara utuh sajak Dharmadi dan juga Dharamdi-nya. Karena yang utuh, yang nyata, Dharmadi-nya sendiri dan hidup-nya. Kerja ‘pembacaan’ hanya sekedar kerja menduga-duga dan ada peluang ‘kelupaan’ sebagai manusia. Bisa jadi juga ketidak-utuhan itu karena Dharmadi tidak mengumumkan semua sajak-nya. Yang diumumkan hanya sajak-sajak pilihan-nya yang sudah ditimbang, diedit, diperbaharui, dll. Itulah sebab-nya pembacaan pada sajak atau-pun pada penulis sajak (orang-nya) akan selalu tidak memuaskan hasrat yang utuh. Sebuah hasrat untuk mengungkap rekam jejak kesastraan atau kepenyairan seseorang. Walaupun menyadari keterbatasan itu, saya mencoba memuaskan jenis hasrat yang lain. Minimal membahagiakan seorang teman bernama Isra yang tergila-gila dengan senja yang meminta saya memberi komentar pada buku puisi ‘Jejak Sajak’ Dharmadi.

Bermain-main dengan Sajak Dharmadi
Dari pengatar itu, saya akan coba masuk membaca ‘jejak sajak’ Dharmadi dari cara pandang saya terhadap teks yang ditulis-nya. Kerja pertama yang saya lakukan adalah ; memulai dengan mengumpulkan semua judul sajak-nya. Maka yang akan kita dapatkan seperti ini ;
Gelombang, Sajak Bunga Plastik, Bermain Dalam Kelincahan, Bola Mata, Hari-hari Berkabut, Penari Ular Di Bar, Di Sebuah Taman Kota, Perjalanan Malam, Malam Pertama, Ketika di Candi, Sejarah Yang Berdarah, Dalam Bara Prasangka, Sajak Selongsong Peluru, Negeri Tragedi, Malam Dan Bulan, Perempuan Hitam di Sudut Taman, Merindu Hijau, Ingin Kulukis di Bidang Sela Kembar Payudaramu, Persetubuhan Malam, Musim Kering, Musim Kering-1, Musim Kering- 2, Dalam Mainan, Pencarian DI Negeri Samar-Samar, Pejalan, Di Lahan Jati Diri, Kesejatian, DI Ranjang Jiwamu, Oh Sang Maha Wiku, Arang Kayu, Rindu Bening Telaga Matamu, Dalam Senja, Pengembara, Sajak, Sesaat Kaugurat Batu, Mencari Kosong, Embun, Langit, Keikhlasan, Meditasi, Ketika Naik Bus Transjakarta, Penari Topeng, Gerhana Bulan, Kembali Pulang Merapat ke Bayang.
Semuanya ada 45 judul sajak yang terkumpul di ‘Jejak Sajak’ Dharmadi. Di buku-kan dalam sebuah format cetak buku tipis ukuran 13×20 cm. Semua judul puisi ditulis dengan hurup besar memakai font Times News Roman ukuran 12. Diterbitkan oleh penerbit Politeknik Pratama tahun cetak pertama 2008 (tidak ada keterangan bulan) dipercetakan gez offset di Purwokerto. Di dalam buku tersebut ada sejenis kata per-untuk-an buku tersebut kepada istri dan anak-nya serta pengatar dari Dharmadi dan beberapa komentar dari Medy Loekito, Budhi Setyawan, dan Mas’ut. Di cover belakang ada beberapa komentar dari Pudwijanto Arisanto, Yonathan Rahardjo, dan Teguh Sucianto.
Kerja pertama ini disebut juga semacam kerja pengamatan awal, suatu upaya untuk mendeskripsikan atau penggambaran pada apa yang tampak secara fisik (buku).
Selanjutnya saya akan mulai dengan permainan kata yang berangkat dari judul-judul sajak Dharmadi. Secara acak dan intuitif saya akan coba simpan judul-judul puisi Dharmadi tersebut untuk membangun sebuah ungkapan yang lain. Semacam kerja iseng pembacaan pada sebuah teks. Ini yang terjadi;

Bermain Dalam Kelincahan Bola Mata
Hari-hari Berkabut
Penari Ular Di Bar, Di Sebuah Taman Kota
Malam Pertama Dalam Mainan
Perjalanan Malam Perempuan Hitam di Sudut Taman
Persetubuhan Malam Di Lahan Jati Diri
Kesejatian Pengembara Mencari Kosong
Musim Kering Di Ranjang Jiwamu

Oh Sang Maha Wiku

Sesaat Kaugurat Batu
Arang Kayu, Embun, Langit
Sajak Selongsong Peluru

Ketika Naik Bus Transjakarta
Ingin Kulukis di Bidang Sela Kembar Payudaramu
Sejarah Yang Berdarah Negeri Samar-Samar
Dalam Bara Prasangka Negeri Tragedi

Ketika di Candi
Malam Dan Bulan Merindu Hijau
Rindu Bening Telaga Matamu

Meditasi Pejalan
Dalam Senja Gelombang Sajak Bunga Plastik
Kembali Pulang Merapat ke Bayang

Inilah sebuah contoh dari permainan menempel atau meng-kolase kata-kata yang hadir sebagai judul puisi dalam kumpulan ‘Jejak Sajak’ Dharmadi. Proses-nya hanya menempelkan judul itu secara utuh tidak mencomot-nya perkata. Jenis permainan seperti ini bisa digunakan dalam teknik penulisan puisi hari ini. Kata kunci yang ingin saya sampaikan dengan model permainan ini adalah; puisi tak sekedar permaina metafora dan kata-kata. Selayak-nya puisi bisa melampaui itu semua.

Perempuan, Perjalanan dan Sejarah Negeri
Membaca sajak-sajak Dharmadi dalam kumpulan ‘Jejak Sajak’ saya menemukan ada 3 hal yang cukup besar porsi-nya hadir dalam sajak-sajak tersebut yakni; perempuan, perjalanan dan sejarah negeri. Porsi cukup banyak tentang tiga tema tersebut dalam kumpulan sajak ini di bagi dalam 2 priodisasi waktu yang cukup berbeda. Pertama sajak-sajak yang berlabel waktu penulisan tahun 1994 sampai tahun 2000 dan yang kedua sajak yang berlabel waktu penulisan tahun 2006 dan 2007. Melihat label waktu tersebut dalam kumpulan sajak ini menimbulkan beberapa asumsi dipikiran saya. Pertama, dalam kurun waktu 2001 s.d 2005 Dharmadi tidak menulis puisi. Kedua, puisi ini di niatkan dengan tema khusus artinya tidak bisa dilihat dari kurun waktu penulisan. Dan ketiga, puisi yang ditulis dari kurun waktu 2001 s/d 2005 sudah di antologikan dalam antologi buku yang lain sehingga tidak perlu diikutsertakan dalam antologi ‘Jejak Sajak’ ini. Asumsi itu saya biarkan ada dalam pikiran. Tak berniat mencari tahu lebih jelas. Karena pokok-nya bukan di urusan itu justru hal pokok ada dalam sajak itu sendiri.
Kembali pada tiga tema yang banyak diungkap oleh Dharmadi dalam sajak-sajak-nya yakni tentang perempuan, perjalanan dan sejarah negeri bisa ditelusuri dengan jelas dalam sajak-sajak-nya. Saya sarankan anda atau siapapun yang membaca tulisan ini untuk langsung membaca puisi-nya. Bisa cari di mesin pencari google dengan kata kunci ‘Jejak Sajak Dharmadi.’Bila saya terangkan dengan sedikit gamblang akan punya resiko dituduh terlalu menggurui. Walau-pun begitu, saya coba tampilkan salah-satu sajak Dharmadi, yang menurut saya sajak ini sedikit prosais tapi juga sedikit bisa memberi gambaran tentang 3 tema besar yang saya tuduhkan pada sajak-sajak Dharmadi. Judulnya; Ketika Naik Bus Transjakarta.

ketika sesekali naik bus transjakarta//mata lelakiku kadang iseng atau tak sengaja menatap payudara/di dada pernumpang perempuan yang mengintip lewat model pakaiannya,/
ah, betapa subur dan indahnya;/lava gairahku mengalir begitu saja, ingat masa kecil ingin kembali/menetek susu ibu,/mencecap rasa nikmatnya sambil memainkan putingnya/kadang dengan jemari atau mulut lembutku dalam hangat dekapan di gendongan.//
ketika sesekali naik bus transjakarta; //mata lelakiku yang kadang iseng atau tak sengaja menatap pusar di perut penumpang perempuan yang nongol lewat model pakainnya,/ingat pada plasentaku yang dulu di dinding rahim ibu// dan pikiranku terus melayang, membayang lubang di bawah/pusar penumpang perempuan ketika menatap bagian celana dalamnya/yang sedikit nampak lewat pakaiannya;ingat lubang/di bawah pusar ibu yang terlindung sepasang pangkal tiang paha,/jalan awal kumemandang dunia.//(Ketika Naik Bus Transjakarta, Jejak sajak, hal 42).

Di puisi itu tergambar ada perempuan ; dada pernumpang perempuan yang mengintip lewat model pakaian tentu juga ada perjalanan : ketika sesekali naik bus transjakarta dan juga sejarah negeri ; Transjakarta saya kira baru oprasional di Jakarta tahun 2006/2007-an sebelumnya Jakarta belum mempunya angkutan publik yang lebih teratur seperti itu. Itu bisa menggambarkan sedikit sejarah angkutan publik di negeri ini kan.

Sajak Padat dan Pendek
Dibeberapa puisi yang terkumpul di ‘Jejak Sajak’ ada beberapa sajak yang ditulis dengan ketat. Dia hadir begitu padat dan juga pendek. Misal di Sajak Bunga Plastik, Sajak Selongsong Peluru, Musim Kering-2, Di Lahan Jati Diri, Kesejatian, Di Ranjang Jiwamu, Oh-Sang Maha Wiku, Rindu Bening Telaga Matamu, Langit, Keikhlasan, dan Meditasi.
Peluang sajak pendek dan padat adalah sajak tersebut bisa membangun imaji pembaca lebih luas dan membangun tumpukan makna. Resiko-nya sajak seperti ini akan membutuhkan cukup waktu untuk mencerna-nya.

Mengakhiri catatan
Karena dari awal saya sudah mengaku menyerah untuk tidak bisa membahas sajak-sajak Dharmadi secara utuh dan komprehensip maka catatan ini bisa dimaknai hanya sekedar respon terhadap hasil membaca. Bung Senja Aditya Fajar, saya kira tulisan ini sekedar permohonan maaf untukmu kawan. Perjalanan dan waktu yang kurang tepat menjadikan tulisan ini terasa tergesa-gesa. Semoga semuan-ya sehat.
Salam hangat + Genggam erat
Iman Abda
imanabda@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 18, 2011 by in catatan kecil and tagged , , , , , .
%d bloggers like this: