catatan senyuman

Dari Bandung menuju Washington DC

Satu hal paling  mendebarkan dari perjalanan yang direncanakan adalah ketika waktu persiapan. Memastikan pakaian, alat mandi, dan beberapa perangkat elektronik plus kabel-kabelnya. Memeriksa alat-alat dokumentasi, mencari tahu tempat tujuan dengan browsing di internet, dll.

walapun ini bukan yang pertama saya melakukan perjalanan hampir 25 jam di udara. Tetap saja debaran itu muncul.  Antara semangat,  rasa ingin tahu dan gelisah. Membayangkan saya duduk di dalam pesawat yang menjelajah  celah langit dan menyibak awan bergelombang siang malam. dan kita tak pernah tau pasti apa yang akan terjadi di ketinggian hampir lebih 3000 kaki di atas bumi tersebut.

Dalam situasi seperti itu, sikap paling masuk akal adalah pasrah dan menikmati setiap moment-nya.

Mulai dari Bandung ke Jakarta

Sudah jam 4 pagi.  Rupanya saya bisa tertidur juga  walaupun 2 jam.  Mandi dan saya pun  bergegas menuju stasiun kereta api Bandung tapi rupanya hari itu kereta tak berangkat pagi. Untung saja ada beberapa orang yang menawarkan travel mobil plat hitam. Akhirnya saya putuskan naik travel yang ada di stasiun KA untuk menuju Gambir.  Hal tersebut saya lakukan untuk memastikan sebelum jam 10 pagi sudah sampai Jakarta. Karena pihak embassy USA di Jakarta mengundang  meeting persiapan keberangkatan dan sekaligus memastikan dapet/tidak-nya visa US di pertemuan jam 10 pagi tersebut.

Siang memastikan dapet visa, sore menjelang malam langsung berangkat. Moment-moment dadakan  seperti ini selalu menyimpan kejutan. Dan terbukti, seorang teman dari RRI siaran luar negeri saudara Marwan hari itu tidak dapat visa maka keberangkatanya di tunda. Untung saja pa Fattah dari Kemenlu sigap dengan moment dadakan seperti itu. Penundaan keberangkatan dan hal teknis lain-nya langsung diurus oleh tim dari kemenlu.

Menuju Bandara Soekarno Hatta

Setelah  memegang paspor yg berisi visa J-1 ke USA  siang itu sebelum berpencar tim yang berangkat  bersepakat ketemu di bandara jam 5 sore. saya melihat jam masih jam 12.00-an masih ada beberapa jam untuk persiapan keperluan yang lupa terbawa. maka saya memutuskan untuk  ikut dulu  mas Irawan Saptono ( ISAI) ke kantornya di  Utan Kayu.  Selain itu karena ada tawaran menarik yg lain yakni makan siang  dengan Tongseng kambing di dekat kantornya.🙂

Dari Utan Kayu, kami (bang Carry ( Gatra),Ferdi (Balairung UGM), dan saya) naik taxi duluan menuju bandara soekarno hatta ke terminal 2 penerbangan internasional.  Mas Irawan nunggu dulu di Utan Kayu dan bilang akan menyusul secepatnya. Nunggu dulu istri, katanya.

Setelah kumpul semua di Bandara maka kitapun melakukan chek-in ulang. Kita naik pesawat Singapore Airlines  dari Jakarta menuju Singapore. Ganti pesawat di Singapore. Dari Singapore menuju New York dengan transit di Frankfut, German tapi tidak ganti pesawat.

Di Airport Changi Singapore  saya bertemu kupu-kupu

Butterfly Garden sebenarnya tidak baru-baru amat dibuka di Changi. Fasilitas ini pertama kali dibuka pada 2008. Namun, koleksi kupu-kupu dan flora yang ada di tempat tersebut terus bertambah. Banyak penumpang pesawat yang tengah menunggu pesawat mengunjungi tempat ini. Sebab, di tempat ini berkeliaran hampir 1.000 kupu-kupu dari berbagai jenis.

Butterfly Garden adalah sebuah taman kecil yang didesain dengan menarik. Di taman kupu-kupu tersebut selain tanaman tropis juga ada air terjun buatan. Sayang saya datang malam hari jadi tidak begitu jelas terlihat tapi tetap Nampak indah. Dengan lampu-lampu sorot yang ditempatkan dibeberapa sudut taman kupu-kupu tersebut.

Letak Butterfly Garden ini di terminal 3 jadi kalau kita dari Jakarta pesawat akan mendarat di Changi di terminal 2 nah untuk  menuju terminal 3 kita disediakan skytrain yang menghubungkan antar terminal.

Singapore, Negara kecil hampir sebesar Jakarta terlihat sangt serius membangun dan mengelola bandara International-nya. Fasilitas lain yang tak kalah menarik selain duty free adalah Internet. Nah, internet bisa jadi adalah fasilitas yang paling banyak ditemukan di Changi. Setiap sudut bahkan di ruang tunggu pesawat telah disediakan fasilitas komputer yang terhubung dengan internet. Waktu yang disediakan memang hanya 15 menit. Tapi, karena banyak Anda tidak perlu was-was ada orang lain menunggu di belakang Anda. 15 menit sudah lebih dari cukup untuk cek email, kirim email dan update status di facebook dan twiter.🙂

Dari terminal 3 Changi kita naik Singapore Airlines lagi menuju New York dengan transit di Frankfurt German.  Singapore – Frankfurt  ditempuh selama 12 jam. Bandara Frankfurt,  kelihatan kecil dari luar desainnya minimalis tapi sangat khas eropa, khas German. Kita akan mudah mengenali sedang ada di bandara german karena plang / petunjuk nya berbahasa German. Ehehheheh.

Sampai di Bandara JFK  New York

Setelah dalam pesawat  10 jam lebih akhirnya sampai juga di benua Amerika. Ini bukan pertama kali saya menginjak benua Amerika tahun sebelumnya, tahun  2010 saya pernah menginjak benua ini dibagian yang lain yakni di bagian selatan benua Amerika. Orang-orang sering menyebutnya Amerika Latin. Saya datang ke Argentina ke sebuah kota bernama La Plata pinggir ibukota Argentina, Buenos Aires. Setahun kemudian saya menginjakan kaki dibagian lainnya,  di kota New York, Amerika Serikat.

Turun dari pesawat di bandara JFK New York, saya mulai gelisah, cerita-cerita tentang imigrasi di USA cukup mempengaruhi pikiran saya. Antrian panjang di imigrasi dan melihat orang-orang di depan saya berjejer teratur, rapih, dan tertib dalam pemeriksaan imigrasi. Sambil ngantri saya lihat tv yang ada di bandara JFK  sedang menyiarkan akan ada peluncuran produk Apple  Inc. yakni Iphone 4S di kota-kota besar di Amerika. Saya tak menyangka bahwa besoknya Steve Jobs pendiri dan Inovator  produk Apple meninggal.

Saya ngantri di gate 12 kemudian saya pindah ke gate 8 karena pihak imigrasi di gate 12 begitu santai wawancara seorang ibu dari China. Terkesan seperti ngerumpi. Lama banget sampai bosen nunggu-nya padahal gate  lain sudah pada mau selesai antriannya.

Kesempatan saya  pun datang. Saya menuju pihak imigrasi USA di bandara JFK New Nyork di gate 8. Saya udah persiapkan semua, mulai dari paspor, surat visa J-1 dan surat-surat lain dari kedubes Amerika di Jakarta.  Saya hanya ditanya dua pertanyaan, mau ngapain ke Amerika dan apa tujuannya. Tentu saja jawaban nya sudah saya persiapkan  jauh hari sebelum saya dapet visa US. J setelah itu  saya diminta nempelin jari-jari di mesin yang ada di meja pemeriksaan imigrasi. Doi  ( penjaga imigrasi) melihat wajah saya kemudian lihat monitor computer yang ada didepannya. Setelah itu dengan semangat doi langsung aja mencap kartu dan buku paspor saya. Saya pun melenggang dengan santai masuk Amerika. Tidak seseram yang saya bayangkan sebelumnya.

Dari JFK New York Ke Washington DC

Rupanya kemudahan di imigrasi  harus dibayar di penerbangan  lokal di Amerika. Dari New York kami naik United, maskapai baru di Amerika menuju Washington DC.

Antrian yang  panjang, system sekuriti bandara yang  sedikit paranoid dan terkesan menyebalkan akhirnya harus saya alami juga. membuka sepatu, ikat pinggang, jaket, laptop, kemudian di periksa badan bolak-balik oleh petugas. Hal ini berlaku juga untuk warga Amerika yg lain saya dengar mereka juga mendumel tentang aturan bandara yang terlalu paranoid ini. Satu sisi baik untuk ke amanan tapi sisi lain beban  bagi yg melakukan perjalanan cepat. Karena harus ngantri panjang-panjang padalah pesawat mungkin sudah siap2 berangkat. Intinya di bandara Amerika anda harus mempersiapkan waktu lebih panjang untuk ngantri sebelum  berangkat. Prepare sekitar 3 jam sebelumnya.

Akhirnya sampailah kami di  Washington.  Kelihatanya pesawat yang kami tumpangi ini ngebut soalnya sampai di bandara dundles, Washington DC belum ada yang menjemput. Menunggu satu jam kemudian kita pun  menuju hotel.  Namanya Renaissance hotel, di daerah dupont circle Washington DC.

Gejala baru muncul malam-malam tak bisa tidur. Ahhh. Saya liat jam  sudah jam 1 pagi di Washington kok mata ini tidak  mau terpenjam, rupanya inilah yg disebut jetleg. Perjalanan panjang dan perubahan waktu. Di Indonesia  artinya jam 1 siang klo di Washington  jam 1 malem. Pantes.

Lanjutan cerita berikut-nya. Apa saja yang saya alami di Washington DC dan New York. Tunggu catatan perjalanan kedua dan ketiga.

2 comments on “Dari Bandung menuju Washington DC

  1. jen
    February 28, 2014

    berapa biaya dari bandung ke washington dc?

    Like

    • rumahiman
      April 14, 2014

      untuk biaya tergantung beli tiket, tinggal di Washington nya, dll. bisa googling tentang harga tiket dan hotel untuk tinggal di sana.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 31, 2011 by in Jalan-jalan.
%d bloggers like this: