catatan senyuman

Merasakan Ibu kota federal USA, Washington DC

Pertama kali menginjakan kaki di Washington sore hari menjelang malam. Makan malam pertama di restoran Melayu. Walupun sudah terbang jauh ribuan kilometer dengan waktu lebih dari sehari ketika makan malam rasanya seperti di kampung sendiri. Hal kedua yang dilakukan adalah membeli air mineral dengan ukuran galon kecil. Di kampung orang kami tetap punya kesadaran untuk antisipasi bila terjadi krisis air.ūüôā dan besoknya sarapan pagi dengan kondisi tubuh dan mata yang menyimpan kantuk setelah semalaman tidak bisa tidur karena jetleg.ūüôā hari pertama yang sempurna di ibu kota USA, Washington DC.

Kegiatan pertama sesuai program di Washington¬† adalah ¬†bertemu dengan wakil pemerintah US dan ¬†IIE¬† ( Institute of International Education) lembaga yang¬† mendesain program kegiatan untuk dialog bilateral bidang media antara Indonesia dan USA. Tema besar program adalah ‚ÄėThe Role of Media in Strengthening Democracy.‚Äô Di kantor IIE yang dibahas adalah soal-soal yang berkaitan dengan hal-hal administrasi selama kita di USA ( Washington dan New York). Setelah dari kantor IIE kita di undang makan siang oleh pemerintah US di The Fourth Estate National Press Club. Sebuah tempat khusus untuk para aktivis press. Tempat tersebut selain digunakan untuk kegiatan-kegiatan pemberian penghargaan terhadap para aktivis pers juga tempat bertemunya para aktivis press dengan anggota kongres, pejabat pemerintah dan juga kalangan bisnis.

Setelah makan siang kita  mengikuti city tour ke tempat-tempat bersejarah di Washington, DC.  dipandu oleh Cristina Batog yang bersemangat sekali. Saya kagum sekali dengan semangat nya memandu kami, suaranya yang lantang dan cepat di siang hari bolong yang panas. Dan yang menakjubkan lagi Cristina menerangkan berbagai hal yang kami temui di jalan dengan tanpa berbekal air minum selama hampir 3 jam. Sampai akhir suaranya tidak serak tetap nyaring. Terimaksih Cristina.

Sebagian besar tempat yang kami kunjungi terletak di sekitar National Mall. Oh ya, jangan bayangkan National Mall itu adalah pusat perbelanjaan seperti yang dipahami oleh banyak orang di Indonesia. National Mall adalah area terbuka di downtown DC yang diapit oleh Lincoln Memorial dan US Capitol dengan Washington Monument pada bagian tengah barat.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah White House. Tempat presiden Amerika tinggal. Saya bayangkan Obama sedang ada di dalamnya. Tapi tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, taman di luar pagar White House bisa digunakan orang untuk bermacam keperluan. Saat itu, ada yang hanya berjalan-jalan, foto-foto, sampai demo. Seorang ibu melakuakn demo bertahun-tahun untuk hentikan nuklir. Dengan seperangkat media kampanye, poster dan selebaran serta tenda kecil. Kalau itu dilakukan di istana presiden di Jakarta sepertinya ibu itu akan langsung di usir dan diamankan. J

Oktober adalah akhir dari musim panas dan awal dari musim semi. Waktu yang pas untuk jalan-jalan. Tapi siang itu matahari cukup menyengat. sekeliling White House dipenuhi oleh orang-orang yang ingin berfoto di depannya. Kesan pertama saya tentang White House, ‚Äúbiasa aja, lebih kecil dari yang di imajinasi saya sebelumnya‚ÄĚ. beda dengan yang ada di foto/TV yang menggambarkan White House itu besar sekali. Saya langsung merasa tertipu oleh TV dan foto yang saya lihat sebelumnya. J

Dari White House kita berjalan sedikit maka terlihatlah dari jauh gedung Capitol. Tidak jauh dari sana, terdapat Washington Monument yang merupakan obelisk tertinggi di dunia. Bangunan yang dibuat dari batu ini selesai pada tahun 1884, jadi sudah tua sekali. Obelisk ini dibuat sebagai penghormatan kepada Presiden Amerika pertama, George Washington. Sayangnya waktu itu kami nggak sempat masuk dan melihatnya lebih dekat karena akan langsung menuju US Capitol. Saya hanya mendengar dari keterangan Cristina yang berdiri di depan kami di dalam mobil yang sedang berjalan.

US Capitol, tempat berkantornya Kongres AS. US Capitol terletak di ujung timur National Mall. US Capitol sungguh megah, jauh lebih megah daripada yang saya bayangkan sebelumnya. US Capitol mempunyai ‚Äúdua muka‚ÄĚ, baik sisi barat maupun sisi timurnya sama-sama disebut sebagai bagian depan. Saat itu, kami mengunjungi Capitol dari sisi baratnya. Taman di sekitar Capitol luas dengan rumput hijau tertata rapi.

Dari arah Capitol, kita bisa melihat Washington Monument tanpa halangan. US Capitol, Washington Monument dan Lincoln Memorial memang terletak dalam satu garis lurus.

Lalu kami menuju Lincoln Memorial, bangunan besar berbentuk bergaya Greek Doric temple. Kalau berfoto di depannya bisa dikira sedang berada di Yunani. Di dalamnya ada patung Abe Lincoln besar yang seakan memandang ke arah Reflecting Pool ( ketika itu sedang di renovasi) dan Washington Monument. Di teras Lincoln Memorial, ada satu lantai yang dipahat khusus dengan tulisan ‚ÄúI Have a Dream‚ÄĚ. Lantai tersebut adalah tempat Martin Luther King Jr. membacakan pidatonya yang terkenal itu. Cuaca panas kala itu membuat pahatan tulisan sedikit tak terbaca.

Selanjutnya kami mengunjungi beberapa memorial yang dibangun untuk memeringati sejarah perang-perang yang pernah dilalui Amerika. Umumnya terletak berdekatan dalam satu komplek, misalnya: World War II Memorial, Thomas Jefferson Memorial dan Korean War Memorial. Setelah menyeberangi Constitution Avenue, kita bisa mengunjungi patung perunggu Albert Einstein yang besar. Didekat patung Einsten tersebut lah gedung US department of State tempat berkantornya Hilary Clinton.

Agenda hari berikutnya  di Washington adalah  kami ke  US Departement of State berdiskusi tentang civil society dan demokrasi kemudian ke International Center for Jurnalists (ICFJ) berdiskusi tentang program peningkatan kapasitas bagi jurnalis. Setelah itu kami ke Voice of Amerika (VOA) di ajak tour keliling kantor VOA kemudian bertemu dengan VOA untuk Indonesia. Wajah-wajah yang tidak asing kami temui seperti mas Helmi Johannes ( mantan penyiar Metro tv) dan mbak Nadia Madjid. Setelah dari VOA malam harinya kami di undang makan malam oleh wakil duta besar RI untuk Amerika pa Salman Al Farisi di rumahnya di daerah Virginia. Hari yang menguras banyak tenaga moment terbaik untuk bisa tidur nyenyak.  Sayangnya saya masih harus terjaga jam 2 pagi entah kenapa setelah terjaga tak bisa tidur lagi sampai waktu sarapan.

Agenda hari  berikutnya kita ke National Association of Broadcasters (NAB), sebuah organisasi sekala nasional yang menampung para aktivis broadcast. Baik itu penyiar radio maupun penyiar tv. Organisasi ini lebi banyak melakukan kerja advokasi untuk perbaikan system penyiaran di Amerika selain itu mereka juga melakukan peningkatan kapasitas anggotanya dan melakukan pameran-pameran teknologi komunikasi. Dari NAB kami ke kantor Huffington Post membicarakan tentang isu-isu luar negeri dan perkembangan media massa di Amerika.

Karena hari itu hari Jumat dari Huffington Post kami jadi 2 kelompok. Saya masuk kelompok yang ikut jumatan. Kami pun menuju Islamic Center di Wahsington DC untuk melaksanakan jumatan.  Islamic Center tersebut di bangun oleh Negara Sudan di dalamnya di isi dengan berbagai macam kaligrafi dari ayat-ayat al-quran. Khutbah jumat-nya panjang sekali lebih dari 1 jam menggunakan 2 bahasa, Arab dan Inggris. Setelah selesai jum’atan diluar masih ada yang sedang jumatan juga kelompok orangya tidak lebih dari 15 orang khutbahnya belum selesai. Mereka menggelar sajadah di trotoar berkeliling dengan imam khutbah di tengah-tengah menggunakan bahasa inggris. Pikir saya, kenapa mereka tidak gabung saja di Masjid Islamic Center. Rupanya kelompok tersebut sengaja melakukan hal tersebut karena berbeda pandangan. Yang menarik semua orang yang selesai jumatan di Islamic Center tetap menghargai mereka. Perbedaan pandangan  bukan halangan untuk tidak saling menghargai.

Dari Islamic Center dengan tergesa kami menuju  National Security Archive George Washington University, Gelman Library. Di tempat tersebut kami menemukan presiden Nixon yang salaman sama Elvis Presley dan transkrip wawancara Sadam Husein.  Ada banyak lagi arsip dan rahasia Negara yang bisa di akses. Undang-undang  Kebebbasan Informasi memungkinkan masyarakat bisa mengakses arsip-arsip yang dianggap rahasia sebelumnya. Dari hasil dialog ditempat tersebut, saya mendapat pelajaran tentang pentingnya dokumentasi. Amerika saya kira Negara yang sangat mementingkan dokumentasi untuk semua peristiwa yang terjadi di Negara-nya. Sehingga generasi berikutnya bisa belajar dari apa yang sudah dilakukan para pendahulunya. Hal lain yang menarik adalah adanya peluang untuk mendapatkan akses terhadap dokumen-dokumen Negara yang sudah diklasifikasi bukan rahasia lagi. Klasifikasinya jelas sehingga memungkin setiap orang untuk mendapatkannya dan itu dijamin oleh undang-undang. Di Indonesia juga punya Undang-undang KIP ( Keterbukaan Informasi Publik) yang saya belum tahu adalah apakah dengan berdasar UU KIP tersebut kita bisa mengakses dokumen tahun 1965, missal tentang dokumen gerakan 30 September. Pertanyaanya, apakah dokumennya masih asli dan lengkap? Dan dimana bisa mendapatkanya?

Hari terkahir di Washington DC kita mendatangi Newseum. Tempat sejarah berita tentang kejadian-kejadian dunia yang ada di media baik cetak maupun elektronik. Gedung nya 7 lantai dengan berbagai macam galeri. Pertama masuk ke Newseum, kami menonton dulu sekilas sejarah newseum dengan format film 4D. menakjubkan. Filmnya digarap dengan bagus sekali. catatan tentang Newseum bisa baca tulisan Ismira di sini.¬† Setelah itu kita keliling-keliling newseum. Di dalam newseum juga ada¬† tempat makan yang menu-nya enak-enak.ūüôā

Dari Newseum kami menuju New York.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 31, 2011 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: