catatan senyuman

Melangkah Ke Masa Depan Radio Komunitas Indonesia

RADIOKOMUNITAS

Masa depan radio komunitas Indonesia bisa dibayangkan seperti pohon nangka yang sedang berbuah dan tumbuh di halaman rumah. Pohon tersebut selain menjadi rumah terlihat asri juga memberi manfaat pada penghuninya. Bayangkan rumah tersebut adalah negara dan radio komunitas adalah pohon nangka yang sedang berbuah itu. Sebagai pohon dia menyimpan air dan menjaga unsur hara tanah tetap seimbang. Begitupun radio komunitas, sebagai media, dia menjaga nilai-nilai demokrasi yang tumbuh di negara ini.

Untuk membicarakan melangkah ke masa depan radio komunitas, saya ajak anda untuk melihat kembali dan menyeimbangkan persepsi agar tetap proporsional dalam memandang cerita baik radio komunitas, untuk itu saya akan mulai dengan penjelasan tentang berbagai hambatan dan tantangan yang dihadapi dalam proses pengelolaan radio komunitas. Setelah itu, di lanjutkan dengan menjabarkan berbagai peluang yang dapat diraih untuk meningkatkan kinerja dan memperbesar pemanfaatan radio komunitas. Bila saja tantangan-tantangan itu dapat diatasi, tidak mustahil irisan dari pendekatan pemberdayaan masyarakat dan penggunaan radio komunitas dapat menjadi pendekatan baru yang akan mengubah jalannya pembangunan negara ini!

Hambatan dan Tantangan

Radio komunitas di Indonesia sering kali mengalami “pasang-surut.” Dalam pengelolaannya. Suatu saat ia berada di zaman keemasan, menjadi media yang dibutuhkan warga dan lingkungannya, saat lain ia terpuruk, berhenti siaran, entah untuk sementara waktu atau selamanya.

Pada suatu saat sedemikian kuat dan memberi manfaat, pada saat yang lain dapat pula berada dalam kondisi “hidup segan, mati tak mau.” Namun tidak tertutup pula kemungkinan radio komunitas itu dapat bangkit kembali di masa depan pada saat yang tepat, sebagaimana banyak terjadi dibeberapa tempat.

Lepas dari buruknya kesan ini, kalau kita mau jujur, kondisi “pasang-surutnya” radio komunitas masih lebih baik ketimbang banyak proyek yang diinisiasi oleh pihak luar, yang sekali dibangun lalu mati setelah proyek selesai, dan tidak pernah dihidupkan lagi oleh penerima manfaat. “Pasang” setelah “surut” justru menunjukkan bahwa radio komunitas pada umumnya memang dibutuhkan rakyat. Bila sebuah alat yang sudah pernah ditinggalkan kemudian diangkat dan dipakai lagi, bukankah artinya alat itu memang ada gunanya? Mungkin tinggal konteks pemakaian alat itu yang perlu kita pertimbangkan kembali.

Ada beberapa faktor internal dan eksternal yang dapat menyebabkan “surut”nya suatu radio komunitas. Yang termasuk dalam faktor-faktor internal adalah landasan berdirinya radio komunitas itu sendiri dan kemampuan mengelola sebuah lembaga yang lebih berbasis pada semangat sukarela dan pelayanan masyarakat ketimbang mencari uang. Sedangkan faktor-faktor eksternal meliputi akses terhadap peralatan elektronika dan orang-orang yang memiliki kemampuan terkait, serta beberapa regulasi tentang penyiaran komunitas dan regulasi yang terkait lainnya.

Faktor Internal

Mari kita bahas faktor-faktor internal dulu. Kita tahu bahwa inisiatif awal dalam proses mendirikan sebuah rakom merupakan salah satu hal kunci dalam keberlanjutannya. Ada beberapa macam inisiatif awal pendirian radio komunitas, pertama, inisiatif yang berasal dari lembaga pendidikan (misalnya SMP, SMA, pesantren, dan universitas), kedua, yang berasal dari luar komunitas (misalnya LSM, lembaga donor, dan pemerintah), dan yang ketiga, berasal dari kelompok-kelompok dalam komunitas itu sendiri.

Banyak radio yang berbasis lembaga pendidikan memberi manfaat pada masyarakat di sekitarnya dengan muatan yang terkait dengan pelajaran sekolah. Namun seringkali mereka masih bingung memposisikan diri: lebih dekat ke radio komunitas atau radio komersial. Kalau sudah memilih orientasi ke radio komunitas, lalu siapakah yang dilayaninya? Siswa/mahasiswa saja, atau termasuk warga di sekitar radio tersebut? Karena merasa bahwa mahasiswa yang dilayaninya tersebar di seantero kota, radio kampus sering ingin meningkatkan daya pancarnya agar menjangkau seluruh kota. Tetapi yang menjadi masalah, semakin besar daya jangkau maka kemungkinan partisipasi menjadi semakin rendah. Idealnya semua yang dapat menangkap siaran radio komunitas berhak ikut menentukan arah dan aktivitas radio tersebut, bukan hanya pelajar di kampus tersebut.

Rakom yang inisiatif awalnya berasal dari luar komunitas biasanya terkait dengan sebuah proyek tertentu. Mereka umumnya memiliki kelebihan dalam hal adanya tujuan pelayanan masyarakat dan/atau penyelesaian persoalan warga yang jelas. Namun apakah tujuan itu memang sejalan dengan hal-hal yang ingin dicapai oleh pengelola rakom, ataukah saat itu orang-orang lebih tertarik karena ada dukungan proyek? Rakom-rakom jenis ini juga cenderung memiliki potensi tersendat atau tutup yang lebih kalau tidak berhasil mendapat dukungan masyarakat. Untuk itu, inisiatif semacam ini perlu didukung proses pengorganisasian yang baik untuk mengembangkan keterlibatan masyarakat.

Terakhir, rakom yang diinisiasi oleh kelompok-kelompok di dalam komunitas biasanya dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu yang awalnya didirikan oleh kelompok eksklusif (misalnya kelompok yang memiliki hobi elektronika saja) dan kelompok inklusif (misalnya yang sejak awal memang ingin menjadikan rakom sebagai wadah peran serta masyarakat). Kelompok eksklusif dapat saja berubah menjadi inklusif, dan demikian pula sebaliknya. Namun kalau radio tetap didominasi oleh kelompok eksklusif, dan tidak berperan apa-apa untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat, konsekwensinya adalah kesulitan menggalang dukungan dari masyarakat. Misalnya kalau ada alat yang rusak, maka kelompok atau individu itu saja yang merasa harus memperbaiki atau menggantinya. Akibatnya, suatu radio dapat berhenti siaran selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, atau selamanya, tergantung dari inisiatif individu atau kelompok tadi. Ini berbeda dengan rakom yang yang inklusif dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Bagaimanapun landasan awal pendirian sebuah rakom, juga masalah partisipasi tetap menjadi isu penting. Meskipun kebanyakan rakom menyatakan bersandar pada prinsip partisipasi masyarakat, kenyataannya saat ini banyak yang belum sepenuhnya menjalankan prinsip tersebut. Contohnya dapat kita lihat pada masih minimnya peran perempuan dalam rakom. Hal ini berakibat pada kurangnya kiprah rakom dalam mengangkat isyu-isyu yang terkait dengan perempuan, misalnya kesehatan reproduksi, gizi dan pendidikan anak, serta kesejahteraan keluarga. Belum banyak radio komunitas yang mempunyai program khusus perempuan apalagi secara spesifik mempersiapkan program tentang perempuan kecuali radio komunitas yang didirikan oleh LSM yang bergerak di isyu ini atau radio komunitas yang sedang menjalin program dengan lembaga-lembaga yang konsen terhadap isu tersebut.

Partisipasi juga seringkali terhambat oleh dominasi peran seseorang atau suatu kelompok dalam pengelolaan radio komunitas. Mungkin orang atau kelompok itu berperan dominan bukan secara sengaja (misalnya untuk mengambil-alih aktivitas rakom), tetapi karena asyik beraktivitas, atau justru karena memiliki komitmen yang sangat (terlalu) tinggi. Sampai kini banyak rakom memang masih tergantung pada figur beberapa orang di daerahnya yang dianggap sebagai tokoh di belakang rakom. Hal ini wajar-wajar saja, asal jangan sampai akibatnya kelompok lain jadi enggan atau sungkan bergabung.

Kelemahan manajemen menjadi faktor internal lainnya yang banyak menghambat kemajuan radio komunitas. Pertama, mari kita bahas soal manajemen sukarelawan. Untuk menjalankan perannya, rakom memerlukan sejumlah orang yang cukup militan – artinya sampai tingkat tertentu mau meluangkan waktu, tenaga, bahkan dana secara sukarela. Dibutuhkan kesiapan masing-masing anggota komunitas untuk mengorbankan kepentingan pribadi demi kemajuan bersama.

Mengelola sukarelawan dalam jangka panjang adalah hal yang rumit. Sukarelawan memang bekerja bukan untuk uang, tapi ada hal-hal lain yang dicarinya: mungkin ketrampilan, pengalaman, kesenangan, ketenaran, dan sebagainya. Kalau rakom tidak dapat memberikan hal-hal ini, atau tidak dapat memberi lebih daripada yang sudah dimiliki seorang sukarelawan, maka wajar sukarelawan tersebut hengkang. Rakom yang biasanya digawangi oleh kelompok anak mudapun sering mengalami kendala ketika pendukungnya beranjak dewasa dan harus bekerja mencari uang, yang mengakibatkan mereka tidak bisa beraktivitas di rakom lagi. Ini juga hal yang wajar. Namun yang menjadi masalah adalah ketika seorang sukarelawan senior berhenti dari aktivitasnya di rakom, padahal belum ada seorangpun untuk menggantikannya. Dalam hal ini sebuah radio komunitas harus selalu melakukan kaderisasi.

Selanjutnya keberlanjutan rakom juga tergantung dari manajemen keuangan. Memang, sampai tingkatan tertentu ada orang-orang yang bersedia menjadi pendukung dana. Tapi ini biasanya memiliki batas. Siapa yang tahan menjadi sukarelawan rakom terus-menerus, padahal aktivitas itu membutuhkan biaya, paling tidak ongkos transportasi dan makan. Pengeluaran rakom biasanya lebih besar daripada pemasukannya.

Manajemen keuangan rakom memang “susah-susah gampang” karena menurut Undang-undang rakom tidak boleh memasang iklan dalam siarannya, kecuali iklan siaran masyarakat. Namun, sebagaimana ditunjukkan di atas, rakom-rakom yang kreatif justru memiliki pemasukan yang berasal dari acara atau aktivitas off-air selain yang on-air. Sayangnya belum semua rakom memiliki kreativitas yang cukup, atau mereka kurang referensi tentang bagaimana bentuk-bentuk manajemen keuangan yang dilakukan rakom lain.

Aspek manajemen yang tidak kalah pentingnya adalah manajemen visi dan misi. Seringkali sebuah rakom didirikan untuk tujuan tertentu, atau untuk membantu warga menyelesaikan sebuah persoalan khusus. Dalam perkembangannya, tujuan itu mungkin sudah tidak relevan lagi, dan persoalan yang ingin diselesaikan sudah berhasil ditanggulangi atau sudah berubah bentuk menjadi jenis persoalan lain. Sebagaimana organisasi yang baik, secara berkala radio komunitaspun perlu menilik ulang visi, misi, strategi, dan aktivitasnya bersama-sama. Kepentingan suatu komunitas marjinal sangat banyak. Begitu satu persoalan selesai, masih ada persoalan lain yang perlu diselesaikan, kebutuhan lain yang perlu dipenuhi, dan potensi lain .yang perlu direalisasikan. Untuk itu, radio komunitas harus selalu jeli dan memainkan peran yang tepat secara dinamis. Kegagalan melakukan ini sangat mungkin berakibat keberadaan rakom itu sendiri dipertanyakan kembali oleh warga.

Faktor Eksternal

Hal lain berkaitan dengan kondisi “surutnya” banyak rakom juga disebabkan oleh faktor-faktor eksternal.

Tantangan dari luar yang pertama adalah minimnya orang-orang yang mudah diakses oleh masyarakat marjinal yang memahami tentang elektronika. Sering ditemukan sebuah radio komunitas yang berhenti beroperasi karena kerusakan alat, padahal alat itu masih bisa diperbaiki. Masalahnya, seringkali dalam suatu daerah (misalnya daerah perdesaan terpencil) tidak ada orang yang memiliki kemampuan ini. Kalaupun ada orangnya tidak ada barang yang dibutuhkannya karena distribusinya tidak sampai ke daerah tersebut. Sehingga tetap harus mengakses ke kota untuk perbaikan perangkat teknisnya. Biasanya masyarakat marjinal tidak mengenal, sungkan, atau tidak punya akses untuk menghubungi orang-orang yang punya kemampuan teknis. Dalam hal ini, radio-radio komunitas yang bermula pada hobi elektronika sekelompok orang cenderung lebih mampu menyelesaikan masalah-masalah teknis yang dihadapi.

Memang kebanyakan radio komunitas menggunakan pemancar yang dirakit sendiri oleh seseorang yang paham elektronika, bukan yang diproduksi oleh pabrik. Meskipun ini juga membangun kemandirian rakyat dalam hal memproduksi alat-alat komunikasi yang dibutuhkan, namun dapat menimbulkan persoalan belakangan. Pasalnya, kebanyakan orang yang biasa merakit pemancar tidak menyertakan skema/gambar rangkaian elektronika dalam produk yang ia buat. Akibatnya kalau pemancar itu rusak, hanya orang yang merakitnyalah yang dapat memperbaikinya. Ketergantungan pada beberapa orang ini diperparah dengan kenyataan bahwa banyak alat yang berhubungan dengan sistem informasi dan komunikasi adalah barang impor. Akibatnya kita jadi terpancing untuk berpikir: apakah bangsa Indonesia akan terus menjadi konsumen dan tidak pernah menjadi produsen alat-alat TIK?

Dalam bidang penyiaran, radio komunitas juga masih mengalami hambatan dari regulasi yang dibuat oleh Pemerintah. Setelah berhasil mendapat pengakuan hak hidup dalam UU Penyiaran no. 32/2002, penyiaran komunitas masih mengalami beberapa hambatan. Salah satunya dalam bentuk Keputusan Menteri Perhubungan no. 15 tahun 2003 yang diubah menjadi Keputusan Menteri Kominfo no. 13 tahun 2010 tentang Rencana Induk Frekwensi Radio FM yang hanya mengalokasikan 3 kanal frekwensi (FM 107,7, 107,8 dan 107,9 MHz) dari 204 kanal yang ada (1,4%) untuk radio penyiaran komunitas. Jatah ini dianggap terlalu kecil untuk peran-peran yang sebetulnya dapat dimainkan oleh radio komunitas, dan terlalu pro-penyiaran swasta.

Bentuk hambatan yang terbesar datang dari Peraturan Pemerintah no. 51 tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Komunitas. Dalam PP ini, disebutkan bahwa “Radius siaran Lembaga Penyiaran Komunitas di batasi maksimum 2,5 km (dua setengah kilometer) dari lokasi pemancar atau dengan ERP (effective radiated power) maksimum 50 (lima puluh) watt.” Ketentuan ini diyakini sangat menghambat oleh pendukung penyiaran komunitas, dan menunjukkan bias Pemerintah terhadap kondisi Jakarta. Padahal di luar kota besar, radius siaran sebesar 2,5 kilometer belum tentu dapat menjangkau luas sebuah desa. Yang paling mengganggu dari PP ini (dan tiga PP lain yang dikeluarkan pada saat yang sama: PP no. 49, 50 dan 52 tahun 2005) adalah pengembalian kekuasaan penyiaran ke tangan Pemerintah, dalam hal ini Menteri Komunikasi dan Informatika. PP no. 51/2005, misalnya, menyatakan bahwa yang berhak “menerbitkan keputusan persetujuan dan penolakan izin penyelenggaraan penyiaran” adalah Menteri Kominfo. Padahal, sebagaimana telah disebutkan dalam UU no. 32/2002, wewenang penyiaran seharusnya ada di tangan lembaga independen, yaitu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Menjawab Tantangan

Seandainya tantangan-tantangan yang menghambat upaya pengembangan radio komunitas dapat ditanggulangi, banyak peluang yang dapat dimanfaatkan dan peran yang dapat dimainkan untuk menjadikan gerakan ini lebih luas dan lebih bermanfaat lagi untuk pemberdayaan masyarakat.

Salah satunya adalah peluang untuk berperan dalam pengembangan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Governance sendiri adalah hubungan antara penyelenggara negara, pelaku ekonomi, dan masyarakat dalam penyelenggaraan urusan publik. Agar hubungan ini berlangsung baik, tentunya perlu ada keseimbangan kekuasaan antar ketiga pemain kunci ini supaya semua bisa berperan setara dalam penyelenggaraan urusan publik.

Hal ini dapat dilakukan melalui beberapa cara. Pertama adalah mendukung rakyat melalui radio komunitas dalam melakukan kontrol publik atas jalannya proyek-proyek pembangunan, kualitas layanan publik, dan dampak kegiatan ekonomi. Ini dilakukan agar proyek pembangunan dan layanan publik betul-betul untuk memenuhi kepentingan rakyat, dan kegiatan ekonomi dilakukan tanpa mengekploitasi kesejahteraan rakyat. Contoh seperti ini pernah dilakukan seperti radio komunitas memantau dan memonitoring program PNPM Mandiri.

Penggunaan radio komunitas untuk hal-hal yang berhubungan dengan peningkatan kualitas layanan publik (misalnya air bersih, listrik, kesehatan, pendidikan), yang disediakan oleh Pemerintah atau mitra swasta-nya, belum banyak berkembang. Padahal peluang untuk berperan dalam bidang ini terbuka lebar karena justru banyak LSM dan proyek lembaga donor yang dikembangkan ke arah ini. Radio komunitas memiliki banyak potensi. Misalnya, melalui kartu pilihan pendengar, rakom dapat membuat survey tingkat kepuasan warga setempat terhadap pelayanan air bersih. Mekanisme voting atau survey melalui SMS saat ini lebih banyak digunakan untuk kebutuhan hiburan (misalnya memilih pemenang lomba menyanyi). Padahal cara itu juga cukup efektif untuk menjaring tanggapan masyarakat terhadap suatu isyu publik. Masukan yang berhasil dijaring dari masyarakat kemudian dapat diajukan kepada mereka yang terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan. Sebenarnya saat ini terbuka banyak pintu untuk melakukan perencanaan pembangunan dari bawah (bottom-up planning), misalnya melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Sayangnya karena upaya serius untuk menjaring masukan dari masyarakat masih belum banyak dilakukan, seringkali mekanisme ini hanya menjadi formalitas.

Cara kedua bagi radio komunitas untuk turut mengembangkan good governance adalah melalui pendidikan atau pengembangan wawasan rakyat. Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu faktor penting yang menyebabkan rakyat terpinggirkan adalah minimnya wawasan mengenai hak, kewajiban sebagai warga negara, dan bagaimana dampak kinerja pemerintah dan sektor swasta terhadap kesejahteraannya. Ini terbukti saat pemilu dan pilkada, ketika masih banyak warga masyarakat yang tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika ada seseorang yang diutus calon bupati yang memberikan uang untuk memilihnya pada hari-H nanti. Demikian juga banyak warga masyarakat yang tidak sepenuhnya paham bahwa berbagai layanan publik bukanlah tersedia berkat kebaikan hati Pemerintah, melainkan terwujud antara lain berkat pajak yang mereka bayar.

Peluang lain untuk peran radio komunitas adalah dalam hal penanggulangan kemiskinan dan pengembangan ekonomi lokal. Dalam hal pengembangan ekonomi, radio komunitas dapat mendukung promosi berbagai usaha dan produk lokal. Bila dilengkapi dengan koneksi internet dan dukungan untuk menampilkan suatu produk dengan baik, maka promosi ini dapat mencapai skala dunia. Demikian pula sebaliknya, radio komunitas dapat memberi masukan kepada produsen-produsen di desanya tentang peluang-peluang ekonomi di luar yang dapat ditangkap. Tentunya hal ini perlu dibarengi dengan penguatan proses produksi dan pasca-produksi di tingkat komunitas.

Peluang lain yang dapat ditangkap oleh radio komunitas adalah mengangkat berbagai kearifan lokal, termasuk tata-nilai, cara melakukan sesuatu, dan bentuk-bentuk kesenian yang telah lama ada, dan khas terhadap kondisi di suatu tempat tertentu. Seiring menguatnya proses globalisasi, muncul banyak keluhan tentang hilangnya berbagai tata-cara dan nilai budaya lokal. Padahal tata-cara dan nilai-nilai itu mencerminkan kearifan yang telah terbangun selama beberapa generasi, dan tidak mungkin digantikan begitu saja oleh berbagai tata-cara baru yang dijabarkan dalam berbagai dokumen lembaga internasional. Misalnya, Rakom yang berada di lingkungan masyarakat adat yang masih kental, menceritakan bagaimana tetua-tetua di zaman dahulu melakukan manajemen pelestarian hutan yang berbasis adat.

Kesenian rakyat, selain melestarikan nilai-nilai luhur yang telah ada, juga berfungsi memberikan hiburan. Dalam hal hiburan pada umumnya, radio komunitas memiliki potensi yang luar biasa. Mereka mengerti betul bagaimana cara menghibur warga di sekitarnya. Potensi ini dapat dikembangkan lebih lanjut untuk membantu meredakan konflik-konflik sosial lain yang marak terjadi di Indonesia. Konflik memang memiliki banyak dimensi, dan seringkali aspek informasi, komunikasi, dan hiburan semata tidak akan mampu menyelesaikan inti dari konflik tersebut. Namun bila dikelola oleh lembaga yang betul-betul ingin mengupayakan perdamaian, bukan mustahil mediasi dalam bentuk hiburan, informasi serta jalur komunikasi yang seimbang dan mencerahkan dapat mendinginkan kepala mereka yang berkonflik.

Tak kalah penting adalah peluang radio komunitas dalam hal manajemen bencana. Sebagaimana terjadi di radio komunitas yang berada disekitar lereng gunung Merapi, sistem informasi komunitas digunakan untuk membantu memastikan bahwa bantuan yang diberikan oleh orang luar betul-betul sampai ke orang yang membutuhkan. Prinsip yang digunakan di sini sama dengan prinsip dalam pemantauan program pembangunan, yaitu transparansi. Radio komunitas juga dapat dipakai untuk menjaring masukan dari warga agar program-program bantuan lebih tepat sasaran, misalnya dengan menyampaikan apa yang dibutuhkan dan apa yang tidak dibutuhkan warga, serta menyatakan siapa dari kalangan warga yang paling membutuhkan bantuan yang terbatas. Dalam jangka panjang, radio komunitas dapat berperan penting dalam membangun sistem peringatan dini (early warning system) terhadap suatu bencana.

Akhir Kata

Berbagai peluang yang dipaparkan di atas adalah nyata. Artinya, dengan komitmen dari berbagai pihak (termasuk untuk menanggulangi berbagai hambatan dan tantangan yang dipaparkan sebelumnya) bukan mustahil hal-hal itu dapat tercapai. Meskipun begitu, perlu ditegaskan kembali bahwa radio komunitas bukanlah obat mujarab yang dapat menyelesaikan semua masalah. Untuk dapat menyelesaikan suatu masalah, ia harus berada dalam konteks yang tepat, dan tidak bisa digunakan dalam ruang hampa.

Pada akhirnya, esensi pemberdayaan masyarakat adalah memampukan rakyat untuk menjaga kepentingannya sendiri. Dan informasi rakyat, sebagai suatu alat, adalah kekuatan rakyat untuk mewujudkan keberdayaannya.

 

Salam hangat,

Iman Abda, Koordinator Advokasi JRKI (Jaringan Radio Komunitas Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: