catatan senyuman

Menghadap Ka’bah di Makkah

Masjid Al Haram, Mekkahka'bah

Salah satu perjalanan paling berkesan adalah ketika melaksanakan ibadah umroh. Bertemu dengan Ka’bah di dalam Masjidil Haram kota Makkah. Bertemu dengan ribuan orang dari suku bangsa yang berbeda dalam kebersamaan dan kebahagiaan. Hanya disini umat Islam tidak meributkan arah kiblat, tidak meributkan sholat subuh dengan doa qunut atau tidak, tidak meributkan tata cara sholat, tidak meributkan soal-soal lainnya semua fokus beribadah. Rasanya damai di hati damai di bumi.

Ketika waktu sholat datang dengan otomatis setiap orang mengisi shaf yang kosong sampai penuh dengan barisan sangat rapat. Semua khusyuk menunduk serendah-rendahnya kehadirat Allah SWT. Di hadapannya hilang semua strata sosial tidak ada kaya-miskin, pejabat tinggi atau rendah, berwajah cakep atau biasa saja. Semua sama sebagai hamba Alloh.

Itulah sepenggal ingatan yang sampai saya menulis ini masih menempel di kepala ketika mengunjungi bumi para nabi dimana Allah dekat sekali. Saya percaya dimana saja kita berada Allah selalu dekat.

Pertanyaan nya kenapa saya menuliskannya? Harus saya akui tulisan ini terinspirasi dari membaca berbagai macam informasi yang seliweran di media sosial di masa tenang kampanye pemilu presiden Republik Indonesia. Tadinya saya memilih tidak berkomentar tidak menulis soal-soal personal antara hamba dan tuhan nya atau pun soal-soal personal lainnya. Selama urusan personal nya tersebut tidak merugikan publik. Rupanya pandangan saya soal ini mungkin agak keliru di era ketika informasi begitu massif dan masuk dengan langsung ke area personal. Sekarang semua orang bisa mengakses sekaligus memberi komentar segala macam informasi dari gadget nya.

Dan kita tahu bahwa masing-masing kita sebagai manusia itu berbeda baik bentuk maupun pikirannya. Setiap kepala punya cara pandang masing-masing terhadap peristiwa atau informasi yang di dapatnya. Karena itu keriuhan di media sosial semakin menjadi-jadi. Hal ini akan menjadi menarik apabila yang dibincangkan menjadi dialog yang saling menginspirasi dan memberi pengertian. Sayang hal itu kerap tidak terjadi. Entah kenapa orang memilih berkomentar dengan nada penuh ejekan tidak ada dialog dan kadang mengabaikan ‘akal sehat.’

saya sdg narsis, di foto seorang teman dengan latar Ka'bah

saya sdg narsis, di foto seorang teman dengan latar Ka’bah

Kemudian saya sadar dalam ibadah yang khusu sekali pun selalu ada pikiran yang tiba-tiba muncul. Seperti berfoto dengan latar Ka’bah, dan lain sebagainya. Begitu pun dalam ibadah umroh ada saja orang yang memaksa dan menggunakan berbagai cara untuk mencium hajar Aswad, misalnya. Ketika ingat ini saya selalu senyum karena ingat pengalaman ditawari calo untuk bisa mencium Hajar Aswad. Ketika Thowaf putaran pertama, tiba-tiba ada segerombolan orang bisa berbahasa Indonesia menawarkan untuk mencium Hajar Aswad. Kalau kita setuju akan diarahkan dan digotong menuju ke batu dari surga ini. Setelah itu akan ada negoisasi pembayaran. Pengalaman ini membuat saya sadar dalam ibadah sekalipun akan selalu ada orang memanfaatkan. Mungkin soal ikhlas, sabar, dan keajegan berpikir kitalah yang akan menjaga nya. Wallohu alamu bishowab.

Tuhan yang baik, semoga catatan ini tidak menjadi ri’ya bagi saya. Hanya ingin berbagi tentang sesuatu yang pernah saya alami. Amien.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 7, 2014 by in Artikel, catatan kecil, Cerita, foto, Jalan-jalan and tagged , , , , .
%d bloggers like this: