catatan senyuman

Menyuarakan Nikmat Keberagaman

rakomberagam

”Saya tertarik dengan tema acara ini; Radio Komunitas Mengelola Nikmat Keberagaman. Itu kalimat sakti. Jadi sebaiknya jangan hanya ditulis tapi harus dilakukan,” ucapan Ahmad Tohari, seorang Sastrawan dan juga Budayawan Indonesia ketika Orasi Kebudayaan di acara ultah JRKI (Jaringan Radio Komunitas Indonesia) ke-11 di Solo pada tahun 2013.  

Sampai saat ini, kata-kata itu masih saya ingat, sebuah kado indah yang memberi semangat dan inspirasi untuk teman-teman radio komunitas terus bersuara memperjuangkan komunitas nya yang beragam dan berbeda.

Menurut penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk itu, dunia memang ditakdirkan beragam. Manusia juga dilahirkan beragam. ”Dan syarat bisa menikmati keberagaman itu sangat mudah. Kata kuncinya jangan suka ‘kem’. Misalnya keminter  (merasa paling pinter), kemayu (merasa paling ayu), dan masih banyak ‘kem’ yang lain.”

Namun sayangnya, dalam kehidupan masyarakat sekarang, menurut dia , justru masih banyak yang suka hal-hal serba paling itu. Bahkan sampai pada tataran merasa yang paling tahu dan benar. Hingga kesannya menjadi berlebihan.

Kekerasan karena perbedaan sentimen agama masih saja terus terjadi. Misalnya, penutupan dan pengerusakan tempat ibadah, stigma sesat, intimidasi Jemaah, serta diskriminasi terhadap aliran minoritas. Dalam Pemilu Presiden kemarin misalnya, isu ini dijadikan alat untuk memperbanyak dukungan, hanya menerima informasi ketika calon-nya sedang dipuji tidak mau menerima kekurangannya.  Yang lebih parah menghembuskan kabar bohong untuk memperkuat  keyakinan pendukungnya pada pilihannya. Akibat dari itu semua terjadinya perusakan dan kekerasan.

Padahal kontitusi kita, UUD 1945: pasal 29 dengan tegas menyatakan bahwa memeluk agama dan berkeyakinan adalah hak segala warga. Sayangnya, di Indonesia, kesadaran untuk menerima perbedaan agama dan berkeyakinan itu masih kurang.  Baik dari tingkat masyarakat maupun elite politik.

Minimnya kesadaran masyarakat dan juga elite politik nya itu,  saya kira salah satu penyebabnya, adalah minimnya edukasi tentang pentingnya menjunjung tinggi toleransi dan pengembangan paradigma multikultural dalam konteks beragama dan budaya.

Nah, pada posisi ini, Radio Komunitas sebetulnya punya peran penting untuk  mengedukasi komunitas dan masyarakat pendengarnya yang ada di area layanan siarnya. Peran ini terutama dalam memberikan perspektif multikultural melalui acara-acara radio.  Menjadikan radio komunitas sebagai alat untuk meliterasi warga atau komunitasnya supaya tidak mudah lagi tersulut dengan kabar tidak jelas.

Sayangnya literasi media untuk warga ini belum menjadi kebiasaan di para pengelola radio komunitas.  Bisa jadi karena belum ada kesadaran atau juga tidak tahu cara  melakukannya. Oleh karena itu penting meningkatkan kesadaran toleransi beragama dan budaya bagi penggiat radio komunitas.

Dengan sengaja, saya menulis ini untuk mengajak dan mendorong para pengelola radio komunitas  melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya harmoni beragama dan budaya melalui radio komunitas masing-masing. Kalau bisa sampai adanya program-program acara  radio komunitas yang memberikan perspektif multikulturalisme. Program-program yang menyuarakan nikmatnya keberagaman.

Saya membayangkan bila pengelola radio komunitas bisa melakukan dan mendorong tumbuhnya kesadaran akan keberbedaan tentang pentingnya toleransi beragama dan budaya yang tidak semata diucapkan tapi juga dilakukan dan menumbuhkan kebiasaan, maka masa depan Indonesia akan lebih berwarna, cerah dan penuh gembira. Amien.

Untuk teman-teman, selamat menjalani dan menikmati ibadah pemilu presiden RI, datanglah ke TPS dengan gembira dan coblos lah sesuai pilihan dan selera🙂

Iman Abda, Koordinator Advokasi Jaringan Radio Komunitas Indonesia

0
0
1
542
3091
jrki
25
7
3626
14.0

Normal
0

false
false
false

EN-US
JA
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:Cambria;}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: