catatan senyuman

Penyiaran Untuk Semua

LOGO-e1416412725206

“orang seperti saya ini kalau hadir di televisi biasanya mendapat peran untuk di bully atau jadi bintang iklan amal. Ditayangkan beberapa detik saja sisanya paling banyak durasinya untuk tayangan nomor rekening”  Adhitya Dhani, Comic Stand Up Comedy dari Malang

Yang dikatakan Dhani walaupun dalam rangka ikut stand up comedy di Kompas TV bisa jadi adalah situasi keseluruhan televisi dan penyiaran Indonesia. Dimana kebanyakan televisi menayangkan orang yang cacat, miskin, dan terpinggirkan hanya sebagai objek untuk mengeruk keuntungan bagi televisi tersebut.

Kehadiran orang dengan keterbatasan tertentu; tidak bisa jalan karena kondisi kakinya sehingga harus memakai kursi roda atau tidak bisa melihat dan tidak bisa mendengar biasanya hadir dalam situasi untuk menarik simpati penonton baik itu untuk iklan panti asuhan atau program sosial pemerintah atau tayangan charity.

Dhani mungkin salah satu pengecualian, dengan kemampuannya menertawakan kondisi dirinya dengan cerdas dia mampu membuat lelucon yang menarik dan mengundang tawa. walaupun dalam sudut pandang tertentu dirinya tengah di ekploitasi oleh televisi yang menayangkan dirinya untuk mendapatkan rating iklan yang tinggi. Dan saya kira Dhani paham tentang soal ini untuk tetap berjuang masuk dalam lingkar industry televisi tersebut.

Televisi adalah salah satu media dominan dalam sistem penyiaran di Indonesia. Hasil riset tahun 2012 yang dilakukan oleh Nielsen terhadap media yang paling banyak digunakan oleh warga menyebutkan televisi masih posisi teratas paling banyak digunakan, meyusul kemudian Internet, Radio, Koran, dan selanjutnya majalah. Sebagai media yang tayangannya paling banyak di konsumsi oleh banyak warga dari berbagai usia, jenis kelamin, wilayah, dan berbagai macam suku bangsa di Indonesia televisi berpotensi mempengaruhi pengetahuan dan keputusan penontonnya.

nielsen_konsumsi_internet_terus_bergerak_naik_130306

Dengan situasi itu seharusnya televisi bisa menghadirkan produksi siaran yang ramah terhadap semua penonton nya. Bisa diakses oleh yang tidak bisa mendengar dan tidak bisa melihat. Bisa diakses juga oleh yang tingkat pendidikannya rendah dan terbiasa menggunakan bahasa lokal, bahasa yang mudah difahami oleh warga di pelosok-pelosok desa. Kenyataannya hari ini televisi belum bisa memberi akses pada itu semua.

Kondisi siaran yang ada di televisi Indonesia hari ini bisa jadi cermin atas situasi penyiaran Indonesia secara keseluruhan. Walaupun ada beberapa pengecualian dengan hadirnya penyiaran komunitas yang sebagian memberikan akses luas terhadap warga negara yang terpinggirkan. Tidak banyak tapi bisa memberi harapan untuk membangun sistem penyiaran Indonesia masa depan.

Apa sebenarnya penyiaran itu? Sebagaimana kita ketahui, penyiaran secara sederhana dan singkat adalah sistem informasi, edukasi, dan hiburan yang terus menerus dengan menggunkaan teknologi media audio visual, dihantarkan menggunakan spektrum frekuensi, sebuah sumber daya alam terbatas.

Sebagaimana sumber daya alam terbatas lainnya seperti migas dan logam, frekuensi harus dikelola sesuai amanat konstitusi UUD 45 yakni diperuntukan untuk semua warga negara Indonesia untuk membangun kesejahteraannya. Artinya pernyiaran itu menggunakan sumberdaya alam yang harusnya untuk semua orang, warga negara Indonesia pemilik kedaulatan negara ini.

Soalnya sekarang adalah; benarkah semua media penyiaran di Indonesia untuk semua orang? Hari ini, kita bisa pastikan akan banyak orang menjawab ‘Belum untuk semua orang.’ Penyiaran di Indonesia hari ini masih di dominasi oleh segelintir orang dan hanya untuk kelompok tertentu dan semua isi siarannya kebanyakan tentang orang di Jawa padahal Indonesia bukan hanya Jawa. Riset tentang media pernah dilakukan oleh CIPG (Center for Innovation Policy and Governance) kesimpulannya semua media yang ada di Indonesia hanya milik 12 group holding media yang semuanya terpusat di Jawa yaitu di Jakarta.

data pemilik media di Indonesia

Pertanyaannya kenapa belum untuk semua orang? Dari hasil-hasil riset membuktikan karena orientasi media termasuk di dalamnya penyiaran (televisi dan radio) semata memenuhi kebutuhan rating yang lokasi surveynya hanya di 10 kota besar di Indonesia. Artinya kebanyakan siaran hanya untuk memenuhi kebutuhan 10 kota besar tersebut terus diklaim menjadi kebutuhan Indonesia. Inilah sebab utama kenapa penyiaran belum untuk semua orang.

Ayok kita perhatikan satu persatu, misalnya dalam soal menayangkan isi siaran, baik berita, feature, talkshow, hiburan, iklan, dan bentuk produksi penyiaran lainnya lebih banyak hanya untuk kepentingan menaikan rating. Ketika tujuan nya hanya menaikan rating maka mengabaikan subtansi isi informasi yang seharusnya menjadi pengetahuan dan bisa dijadikan rujukan pengambilan keputusan sehari-hari bagi penonton. Pemirsa penyiaran yang sekaligus adalah warga negara Indonesia.

Selain itu kebanyakan isi informasinya tidak ramah untuk orang yang tidak bisa mendengar dan melihat. Perhatikan tayangan semua stasiun televisi kita hampir semua tayangannya mengabaikan kehadiran orang-orang yang tidak bisa mendengarkan (tuna rungu) tidak pernah kita melihat bahasa isyarat digunakan. Atau menginformasikan dengan audio yang bisa membangun imajinasi visual yang sesuai untuk orang yang tidak bisa melihat (tuna netra).

Padahal dasar konstitusi kita UUD 1945 tegas menyebutkan semua sumber daya alam diperuntukan untuk kesejahteraan semua warga negara Indonesia. Aturan lebih khusus misalnya dalam P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran) yang dibuat KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dengan jelas dan tegas menyebutkan semua lembaga penyiaran harus melindungi kelompok marginal dan difabel malahan ada kewajiban lembaga penyiaran untuk menggunakan bahasa isyarat atau bahasa yang mudah difahami oleh kelompok-kelompok terpinggirkan ini. Buktinya semua aturan tersebut dilanggar oleh lembaga penyiaran (televisi yang lebih dominan).

Melihat kondisi tersebut, saya kira pekerjaan rumah untuk membangun satu masyarakat terbuka dan bisa memahami dan menghargai perbedaan dalam penyiaran Indonesia hari ini masih butuh kerja keras. Soal utamanya jelas, orang-orang pelaku dalam dunia penyiaran tidak mengindahkan aturan yang seharusnya mereka ikuti. Ah, saya lupa, di Indonesia masih banyak orang berfikir bahwa aturan untuk di langgar. Jangan-jangan cara berfikir ini juga muasal logika tidak ikut aturan dan akhirnya mengindahkan kelompok minoritas yang harusnya punya hak juga.

Baiklah, bila soal utamanya, misal bukan pada aturan yang tidak ditaati tapi lebih pada soal pemahaman orang-orang yang menjadi pelaku dalam dunia penyiaran. Maka kalau itu soalnya, masalah penyiaran ini menjadi membesar karena berkaitan dengan model dan sistem pendidikan pada umumnya. Bukankah orang-orang yang ada dalam dunia penyiaran juga bagian dari orang-orang yang di didik oleh sistem pendidikan Indonesia?

Saya tidak akan membahas lebih panjang soal pendidikan walaupun ini sangat erat kaitannya, saya coba menelusuri kembali soal-soal yang ada dalam dunia penyiaran Indonesia untuk bisa menjawab bisakah penyiaran untuk semua orang? Dan bagaimana caranya?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ayo coba kita perhatikan lagi kondisi penyiaran di Indonesia ini dengan menagjukan pertanyaan, pernah kah ada artis atau selebritis dari kalangan orang difabel? bekerja jadi host di stasiun televisi, menjadi penentu sebuah program acara atau produsen di stasiun televisi dan radio? Jawaban untuk pertanyaan tersebut hampir dipastikan untuk saat ini belum ada. Mungkin ada, tapi posisinya belum setara dengan orang yang dianggap normal secara fisik.

Sepengtahuan saya baru di radio komunitas ada beberapa stasiun radio komunitas yang didirikan oleh kelompok-kelompok difabel seperti di Cianjur, Semarang, dan Solo tapi kondisinya sekarang sudah off air lagi. Soal utama kenapa off air karena yang dihadapi dalam penyiaran bukan semata kemampuan dan semangat saja tapi kebanyakan berkaitan dengan teknis oprasional harian. Dan, tentang hal ini sistem penyiaran Indonesia masih diskriminatif terhadap penyiaran komunitas. Pengelola radio komunitas yang fisiknya normal pun banyak yang off air juga.

Artinya, saya ingin menyebutkan bahwa penyiaran hari ini belum diperuntukan untuk semua orang dan tentu saja tidak ramah terhadap difabel. Sekali lagi harus diakui orang difabel hadir di penyiaran biasanya dan kebanyakan hadirnya di iklan kemanusiaan. Seperti ungkapan Dhani di awal tulisan ini. Posisinya masih sebagai objek bukan subjek yang hadir dengan kesadaran orang-orang penyiaran. Dihadirkan dalam iklan tersebut sebagai barang jualan kemanusiaan untuk ajakan menyumbang.

Hal lain yang bisa kita telusuri kenapa penyiaran Indonesia belum untuk semua orang? Adalah berkaitan dengan kepemilikan media penyiaran nya. Semua orang itu artinya warga negara republik Indonesia ini tidak mengenal kaya dan miskin. Nah, orang miskin bisakah memiliki media penyiaran? Hampir dipastikan jawabannya tidak bisa. Karena hanya orang kaya dan punya modal lah yang hanya boleh memiliki media penyiaran. Karena peraturan secara tidak langsung hanya memperbolehkan orang yang kaya secara material lah yang boleh memiliki stasiun penyiaran yang diwujudkan lewat Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, dan turunan kebawahnya.

Kita tahu cara terbaik untuk meningkatkan kemampuan dan mengurangi kemiskinan adalah dengan pendidikan dan pengetahuan yang benar. Media penyiaran adalah salah satu alat yang bisa digunakan untuk melatih itu semua.

Saya membayangkan dimasa depan sistem penyiaran Indonesia ini memang diperuntukan untuk semua orang. Orang yang lahir dengan kondisi apapun baik tidak bisa melihat atau mendengar atau kondisi cacat lainnya bisa menikmati penyiaran dan terlibat di dalamnya. Saya juga membayangkan orang miskin dan ada di pelosok-pelosok desa Indonesia bisa menikmati penyiaran dengan nyaman. Semoga.

Terakhir ayo kita cermati apa yang pernah dikatakan Bung Hatta dalam pidatonya setelah kemerdekaan Indonesia; “…Indonesia merdeka tidak ada gunanya bagi kita, apabila kita tidak sangup untuk mempergunakannya memenuhi cita-cita rakyat kita: hidup bahagia dan makmur…”

Sekian dulu tulisan ini, semoga doa kecil dan renungan di hari Difabel ini bisa untuk perbaikan sistem penyiaran Indonesia ke depan. Amien.

Karangkajen, 3 Desember 2014

 

 

One comment on “Penyiaran Untuk Semua

  1. rika
    December 14, 2014

    menyimak

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 8, 2014 by in Artikel, catatan kecil, Radio Komunitas and tagged , , , .
%d bloggers like this: