catatan senyuman

Tamasya Nonton Sinema Di Jogja

 

Beruntung lah saya punya kesempatan datang ke Jogjakarta di bulan Desember 2014 ini. Kota ini menawarkan begitu banyak acara berkaitan dengan peristiwa kesenian dari mulai Pertunjukan teater baik tradisi maupun modern juga ada konser musik, pembacaan dan diskusi sastra, Pameran seni rupa, serta festival film. Dari bejibunnya acara tersebut, saya memilih untuk bertamasya menonton sinema dalam acara festival film.

logo_header21

Ada ‘Jogja-NETPAC Asian Film Festival’ yang ke-9 diselenggarakan dari tanggal 1-6 Desember 2014 kemudian disusul dengan ‘Anti Corruption Film Festival’ tanggal 9-11 Desember 2014 sekaligus memperingati hari Anti Korupsi, Kemudian ‘Festival Film Dokumenter’ yang ke-13 tanggal 10-13 Desember 2014 selanjutnya ‘Festival Film Pelajar’ yang ke-5 tangal 14-15 Desember 2014. Selain acara bentuk festival masih ada jenis pemutaran film yang dilakukan oleh komunitas, juga yang disisipkan dalam festival seperti ‘Aneka Ria Sinema’ dan tentu saja Cinema 21 yang regular.

Karena niat saya bertamasya di Jogja sambil nonton sinema maka tentu saja tidak semua film bisa saya tonton. Walaupun begitu, saya mencoba memilih beberapa film yang di putar di JAFF yang tahun ini mengambil tema “Re-Gazing At Asia.” Karena temanya berkaitan dengan cara melihat kembali Asia, pilihan saya bagi untuk menonton film yang diproduksi oleh sineas Jepang, Korea, Cina, yang dalam industri film sudah lebih maju sekaligus saya mencoba memilih film yang diproduksi oleh sineas dari Tajikistan, Singapore, dan tentu saja Indonesia. Keterbatasan waktu dan terbaginya lokasi menonton memaksa saya untuk memilih yang akan dilihat.

Secara keseluruhan film yang di putar di JAFF ini memiliki cara bertutur yang berbeda dengan kebiasaan film yang hadir di bioskop 21. Karena itu tamasya menonton ini menjadi menyenangkan penuh debaran. Di mulai dengan Like Father Like Son (2013) sebuah film keluarga yang manis karya Kore-Eda Hirokazu sineas Jepang yang bercerita tentang anak yang tertukar. Cara bercerita yang sangat natural membuat film ini sederhana tapi penuh kesan. Kisah anak tertukar memang sedikit ganjil tapi peristiwa seperti ini pernah terjadi di rumah sakit bersalin Indonesia juga.

Film Jepang lain yang saya tonton adalah Hospitalite (2011) karya Koji Fukada, seorang sutradara sekaligus penulis muda Jepang yang produktif. Cerita film ini penuh kejutan dimulai dari kehilangan burung Beo milik anak seorang pengusaha percetakan kecil kemudian mengungkap soal perceraian dalam rumah tangga dan juga para imigran yang ada di Jepang. Kehidupan yang tadinya normal kemudian menjadi jungkir balik. Film dengan humor cerdas dalam cerita keluarga ini mengasyikan.

Film Hospitalite adalah sebuah film yang di usung oleh ‘Aneka Ria Sinema’ sebuah proyek kolaborasi yang ditujukan untuk mengembangkan penonton film beragam. Proyek ini dimulai di Jepang (Osaka, Kobe, Nagoya, Tokyo), 19-24 November 2014, dan Indonesia (Yogyakarta, Jakarta), 6-10 December 2014.

Oh ya, yang masih menempel diingatan ketika menulis ini juga adalah sebuah film dari Tajikistan berjudul ZARANDUD film karya Ulugbek Sadykov & Muhabbat Sattori ceritanya tentang seorang anak berumur 13 tahunan yang berpetualang mendapatkan uang dengan mencari emas untuk pengobatan ibu-nya (penyiar radio) yang sedang sakit. Diperjalanan bertemu dengan orang-orang tua yang memberinya pelajaran berharga tentang hidup. Kesan yang menempel bukan karena ceritanya tapi karena ada sebuah adegan cukur kumis dan jenggot yang tidak masuk logika scene. Karena adegan itu, sampai saat ini film ini saya ingat walaupun sambil senyum.

Film Indonesia yang saya tonton di JAFF adalah sebuah film dokumenter karya Ariani Djalal berjudul Layu Sebelum Berkembang (2014) cerita tentang 2 anak perempuan yang menghadapi kelulusan ujian nasional tingkat sekolah dasar. Bagaimana ke-2 anak perempuan ini mendapat pengajaran tentang Islam di sekolah dan rumah untuk menghadapi ujian akhir SD. Serta proses mendaftar ke SMP yang diharapkan. Sebagai film dokumenter panjang film ini bisa menggambarkan situasi pendidikan Indonesia. Harapan anak, harapan orang tua dalam sebuah sistem politik dan sistem pendidikan yang rumit. Di JAFF film ini mendapat Silver Hanoman Award sedang di FFD mendapat sepesial mention.

Home-2-1280x586

Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta adalah festival film dokumenter pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Sejak tahun 2002, setiap Desember Festival tahunan ini telah mengadakan beberapa program yang berkaitan dengan film dokumenter. Pada tahun ke-13 ini mengambil tema ‘Journey’ sebuah tema yang mengajak penonton berjalan-jalan dari waktu ke waktu, satu tempat ke tempat lain, serta dari satu peristiwa ke peristiwa lain, untuk kemudian merefleksikan segala yang hadir di layar sinema yang begitu dekat di depan mata, tetapi sesungguhnya sangat berjarak dari tempat di mana kita berada saat ini.

Seperti halnya JAFF nonton film yang ditawarkan oleh FFD juga seperti makan menu makanan sepesial, bergizi dan menambah pengetahuan, di FFD sepesial lagi karena kita diajak masuk untuk melihat film dokumenter sebagai sajian utama. Penyelenggaraan FFD yang waktunya bertepatan dengan memperingati Hari HAM sedunia yakni tanggal 10 Desember 2014, menjadikan film Senyap (The Look of Silence) yang disutradarai oleh Joshua Oppenheimer menjadi pembuka yang menghayutkan. Film ini bercerita tentang sejarah sebuah keluarga yang menjadi korban pembantaian 1965. Film ini menjadi penting karena sampai saat ini, banyak kasus HAM masih belum mendapat titik terang penyelesaiannya di Indonesia.

Lagi-lagi saya harus membuat jadwal menonton karena pelaksanaan FFD tahun ini tersebar di 4 tempat yakni di Tembi Rumah Budaya, IFI-LIP, Auditorium Fakultas Ilmu Budaya, UGM, dan Jogja Library Center. Ini resiko dari nonton sebuah festival film, kita kadang tidak bisa menonton semua yang ingin ditonton. Maka saya pun memilih menu yang ditawarkan dalam jadwal FFD. Selain film Senyap, sebuah film wajib yang ingin saya tonton, saya pun memilih untuk menonton film dokumenter Korea, Film Kompetisi untuk kategori Film Pendek, Panjang, dan Pelajar.

Yang masih saya ingat film dokumenter Korea adalah film KT Man (2014) karya LEE Jin-Woo, film yang terasa sangat personal karena dibuat oleh seorang anak (Lee Jin-Woo, sutradara) untuk menceritakan ayahnya yang bekerja di perusahaan Telekomunikasi bernama Korea Telecom. Kerja keras ayahnya sampai pensiun di perusahaan tersebut. Didalamnya ada peristiwa politik tentang ketidakpercayaan para pemegang saham terhadap presiden perusahaan Korea Telecom.

Film kompetisi dokumenter pendek yang saya tonton dan punya cara bercerita hampir sama dengan dokumenter Korea di atas, yakni film sangat personal seorang anak ingin mengetahui keluarga ayah dan ibu-nya adalah Akar karya Amelia Hapsari. Yang di akhir kompetisi film ini diganjar sebagai film terbaik untuk kategori dokumenter pendek.

Film dokumenter pendek lain yakni Menonton Penonton (2014) karya Ardi Wilda cukup berkesan juga. Menceritakan para penonton bayaran yang ada di layar televisi Indonesia dengan adagium yang cukup lucu ‘penonton alay itu adalah setengah artis.’ Selain itu dokumenter lain dengan judul tak saya mengerti yaitu Kaun Hai Hum, Hum Yaahan Hai (2014) karya L.H Aim Adi Negara yang menceritakan keturunan Pakistan-Indonesia yang berprofesi konsultan sex. Mungkin karena judulnya yang cukup aneh bagi saya serta papan nama konsultan sex membuat film ini saya ingat.

Film dokumenter kategori panjang yang saya tonton adalah Biji Kopi Indonesia (2014) dengan sutradara Budi Kurniawan yang bercerita tentang sejarah asal-usul kopi di Indonesia. Film ini menarik karena desain komposisi artistik digarap cukup serius walaupun jadi terkesan seperti film untuk iklan. Ada film lain yang tidak masuk dalam kompetisi yang juga menarik yakni Tarian Malam (2014) sutradara Chairun Nissa bercerita tentang kelompok tari kontemporer bernama Nan Jombang asal Sumatera Barat. Walaupun tidak menperlihatkan lebih dalam komplik batin ke-3 istri Eri Mufri, sang maestro tari asal Sumbar ini, gambaran jalan hidup penari kontemporer cukup tegas yakni ‘Hidup untuk menari sampai mati.’ Informasi penting film ini adalah memperkenalkan juga bahwa di Indonesia ada group tari kontemporer yang sudah melanglang dunia.

Yang miss dan tidak sempat saya tonton untuk kategori dokumenter panjang ini adalah Tumiran (2014) sutradara Vicky Hendri Kurniawan sebagai film terbaik FFD 2014 kategori dokumnter panjang dan Marah Di Bumi Lambu (2014) sutradara Hafiz Rancajale.

Untuk kategori dokumenter pelajar film Penderes dan Pengidep (2014) sutradara Achmad Ulfi memang cukup berkesan. Bercerita tentang kondisi sebuah keluarga yang punya 3 orang anak menjalani kehidupan sehari-harinya. Dengan bekerja sebagai Penderes (suami) pengambil air nira untuk dijadikan gula merah dan pengidep (istri) membuat bulu alis mata. Walaupun sudah bekerja siang malam ternyata tidak cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Sampai utang ke tukang kredit pun tidak bisa dibayarnya. Menurut saya ide cerita film ini menarik hanya kurang ekplorasi sedikit lagi tentang bulu alis yang dibuat itu dijual kemana. Di luar itu film ini asyik. Melihat film ini, harapan terhadap masa depan perfileman Indonesia cukup menggembirakan.

Harapan menggembirakan itu bisa dilihat juga dalam Anti-Corruption Film Festival (ACFFest), ada 333 film yang masuk jadi peserta tahun 2014 ini dan hampir kebanyakan adalah generasi muda. Karya pelajar dan mahasiswa.

Film pendek fiksi Ijolan (2014) karya Eka Susilawati yang menjadi pemenang kategori fiksi pendek pelajar bisa menggambarkan kualitas film anak muda Indonesia ini. Cara bertutur dan soal teknis film sudah kelihatan matang selain tentu ide cerita yang juga bagus.

ACFFest memang diniatkan sebagai sebuah festival film yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, dukungan dan partisipasi masyarakat Indonesia terhadap upaya pemberantasan korupsi, serta menanamkan perilaku anti-korupsi sebagai bagian dari gerakan, kampanye dan pendidikan anti-korupsi melalui media film.

ACFFest 2014 mengusung tema “Face the Fact, Act Today”. Tema ini diharapkan dapat menjadi jargon baru bagi anak muda agar berani menghadapi berbagai fakta dan beraksi menghadapinya dengan bertanggung jawab, tanpa mengesampingkan sisi kreatif.

Saya sebenarnya ingin menceritakan lebih panjang lagi tentang tamasya nonton sinema di Jogja ini hanya saja waktu untuk menuliskan film-film lain yang saya tonton kayaknya tidak mungkin diceritakan semua ditulisan ini. Kayaknya butuh tulisan yang lebih khusus dan khusu untuk menceritakan, misal, tentang perkembangan film pelajar di Indonesia atau tentang bioskop alternative dan komunitas-komunitas diskusi film. Lain kali saya coba tulis hal-hal tersebut dengan data yang saya punya. Selamat bertamasya.

Iman Abda, Penonton Film jenis apapun

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: