catatan senyuman

Pentingnya Penyiaran Kebencanaan dalam revisi UU Penyiaran

‘penyiaran kebencanaan dari pengalaman dan praktek penyiaran radio komunitas di Indonesia, Philipina dan Jepang berfungsi bukan hanya sebagai media untuk informasi semata tapi juga media untuk orang-orang di lokasi bencana bisa bertahan hidup berbagi perasaan dan membangun kepedulian.’ Sendai,  15 Maret 2015

Itu catatan saya yang saya baca ulang sore ini dari berkas-berkas perjalanan ke Jepang. catatan itu hasil dari dialog dan berdiskusi dengan para aktivis radio komunitas di Jepang, Philipina dan indonesia. sengaja saya simpan diawal catatan ini untuk mengingatkan sebuah perjalanan yang memberi banyak inspirasi.

17388_10204818379272250_3545660480431523388_n

Saya niatkan membuat catatan ini, semacam oleh-oleh dari trip ke Jepang menghadiri UN World Conference on Disaster Risk Reduction ke-3 di Sendai, Jepang. tentu saja catatan ini hasil dari obrolan waktu bertemu dengan para pegiat radio komunitas di Jepang, berkunjung ke stasiun radio komunitas di Sendai dan juga di Kobe serta berdialog dengan bagian penyiaran di kementrian telekomunikasi dan informasi pemerintah Jepang.

Kesempatan untuk saling belajar tentang penyiaran komunitas dalam penyiaran kebencanaan tentu saja sangat berharga untuk saya. Kesimpulan dari dialog tersebut adalah ‘pentingnya ada penyiaran kebencanaan’ yang bisa diakses dengan mudah baik untuk pendiriannya maupun soal perizinannya. Di Jepang untuk proses pendiriannya bisa dengan telpon langsung dari pemerintah lokal ke kementrian telekomunikasi dan informasi di tingkat nasional. Kemudian dikeluarkan alokasi frekuensi khusus untuk kebencanaan dari pemerintah nasional. Mekanisme seperti ini sudah ada dalam aturan Penyiaran untuk kebencanaan pemerintah Jepang.

10942527_10205041656314143_8916181420738986571_n 8972_857279257647414_3697805768902971976_n

Di Indonesia, saya tahu persis praktik penyiaran kebencanaan sudah dilakukan oleh teman-teman radio komunitas baik itu untuk bencana erupsi gunung merapi, tsunami, gempa, banjir, dan longsor. Hanya saja tidak ada aturan hukum yang memayungi praktik penyiaran kebencanaan ini. Sehingga bisa terjadi pemerintah tiba-tiba mengambil prangkat siaran radio komunitas yang sedang menyiarkan soal kebencanaan ini. Hal ini pernah terjadi pada radio komunitas Lintas Merapi.

Kenapa penting penyiaran kebencanaan di Indonesia?
Karena lokasi geografik Indonesia ada di Cincin Api Pasifik, terjepit di antara tiga lempeng benua di daerah tropis yang bisa menciptakan potensi gempa bumi, letusan, tsunami, banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Secara geografik posisi Indonesia rentan terhadap bencana. Dan kita tahu dalam bencana, informasi sangat penting. Tanpa informasi dan komunikasi yang terjalin kerusakan yang dihadapi akan semakin besar. Soalnya sekarang adalah bagaimana mendorong adanya payung hukum tentang penyiaran kebencanaan di Indonesia sebagai bagian dari sistem penyiaran Indonesia.

Apa itu penyiaran kebencanaan?

Mas Imenk atau Imam Prakoso, AMARC Asia Pacific mendefinisikannya sebagai berikut: Penyiaran kebencanaan adalah penyiaran yang ditujukan untuk membantu kondisi darurat, memulihkan kondisi kebencanaan dan pengurangan resiko bencana. Penyiaran kebencanaan difiokuskan kepada pekerja kemanusiaan, pendukung operasi darurat serta penyintas dan korban bencana serta penduduk yang tinggal di wilayah rawan bencana.

Siapa yang bisa melakukan penyiaran kebencanaan ini?

Penyiaran kebencanaan dapat dilakukan oleh lembaga penyiaran publik, seperti RRI atau TVRI yang sekarang sedang direncanakan merger menjadi RTRI (Radio Televisi Republik Indonesia) rancangan UU RTRI sudah masuk prolegnas sama dengan revisi UU Penyiaran. Bisa juga dilakukan oleh lembaga penyiaran swasta, lembaga penyiaran komunitas maupun stasiun penyiaran yang didirikan pada saat bencana terjadi dan bersifat sementara.

Apa isi program penyiaran kebencanaan ini?

Isi program penyiaran kebencanaan harus materi siaran yang berisikan program siaran yang mendukung operasi tanggap darurat, pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi serta upaya pengurangan resiko bencana dan ditujukan untuk kepentingan penyintas dan warga masyarakat di sekitar wilayah rawan bencana.

Bagaimana cara mendirikan penyiaran kebencanaan?

Pemerintah dapat segera memberikan lisensi khusus bagi lembaga penyiaran yang hendak mengoperasikan penyiaran kebencanaan pada saat kondisi tanggap darurat. Lisensi khusus tersebut disertai ijin penggunaan kanal frekuensi yang disediakan untuk kondisi darurat. Pengaturan pemberian lisensi khusus diatur dalam Keputusan bersama menteri dan badan terkait informasi dan komunikasi serta penanggulangan bencana. Untuk penyelenggaraan penyiaran kebencanaan yang bersifat tanggap darurat, disediakan alokasi kanal frekuensi khusus oleh Pemerintah dan bersifat sementara. Ijin penggunaan tersebut dapat diperpanjang sesuai dengan kondisi kebencanaan yang ada.

Ada beberapa karakter penyiaran radio untuk kebencanaan ini, ini dari hasil dialog bersama teman-teman pengelola radio komunitas di area bencana.

Pertama, emergency radio atau radio darurat biasanya topik siarannya berkaitan dengan informasi tentang bencana, sebagai media early warning sistem atau media peringatan dini, dan sebagai media untuk menginformasikan berkaitan dengan bantuan bencana.

Kedua, radio untuk recovery biasanya program siarannya berkaitan dengan trauma healing, memonitor aktifitas bantuan terhadap korban bencana, dan melakukan komunikasi dua arah.

Ketiga, rehabilitation radio atau radio untuk tahap rehabilitasi pasca bencana. Biasanya siarannya memabangun partisipasi pendengar yang sakligus adalah korban bencana, siaran hiburan karena dilokasi bencana orang juga butuh hiburan.

Selanjutnya adalah karakter penyiaran seperti radio komunitas yang bisa melakukan program off air bersama komunitasnya , melakukan pendidikan tentang mitigasi bencana, dll.

Ini sedikit catatan tentang penyiaran kebencanaan, walaupun dituliskan tidak terlalu runut tapi semoga bisa menjadi bahan untuk para aktivis penyiaran di Indonesia mendorong adanya payung hukum berkaitan dengan ‘penyiaran kebencanaan.’

Salam hangat, tetap sehat dan terus semangat!

Iman Abda, Koordinator Advokasi Jaringan Radio Komunitas Indonesia

dokumen foto: Anton Birowo, Jun’ichi Hibino, Kaori

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: