catatan senyuman

Selfie-ria dan ‘Gaul’ di Festival Payung Indonesia

 

IMG_20150913_141116

Hari minggu ke-dua di bulan September 2015 kemarin, saya diajak teman untuk melihat sebuah perhelatan di taman Balekambang, Solo. Perhelatan itu bernama ‘Festival Payung Indonesia ke-2.’ Acaranya menarik dan banyak spot untuk pengunjung berfoto selfie. Salah satu trik penyelenggara acara untuk diminati pengunjung. Cukup berhasil.

Peristiwa berfoto selfie maupun foto barengan di sebuah acara semacam festival, hari ini itu biasa. Justru kalau penyelenggara sebuah event tanpa memperhatikan ruang artistik atau tempat khusus berfoto rasanya penyelenggara acara tersebut kurang ‘gaul.’

IMG_20150913_140653 IMG_20150913_140836

Bicara soal ‘gaul’ inilah saya selalu kagum dengan kota Solo. Di kota ini banyak sekali festival yang diadakan untuk menjadikan ruang ‘gaul’ wisatawan lokal maupun mancanegara. Sebut saja misalnya; festival topeng, festival batik, festival tari, dll. Semuanya menggugah minat untuk dilihat termasuk salah satunya untuk ajang ‘gaul.’

IMG_20150913_141800

Disela-sela merasakan kegembiraan hadir dan bergaul di acara tersebut, tiba-tiba muncul pertanyaan kenapa butuh ada acara festival payung seperti ini ya? Saya coba mencari jawaban keingintahuan saya tersebut. sampai saat ini belum punya jawaban yang pas dan cocok.

Sepenting apa sebuah festival untuk suatu kota? Apakah dengan banyaknya festival, maka kota tersebut disebut ‘gaul’? dan setumpuk pertanyaan lainnya. Saya coba untuk meredam keingintahuan tersebut dengan hanya merasakan acaranya. Bergembira sejenak dari rutinitas dan soal-soal lain yang makin ke sini terulang terjadi. Berita-berita meresahkan seperti soal ‘asap’ atau korupsi atau sosial-politik yang makin lucu.

IMG_20150913_161529 IMG_20150913_161513 IMG_20150913_160923 IMG_20150913_141152

Bicara soal Payung

Saya kira kita tahu tentang payung, sebuah alat yang berfungsi untuk berteduh. Baik untuk berteduh dari air hujan ketika musim hujan atau menghindari sengatan matahari kala siang. Tapi selain fungsi, payung juga punya nilai artistik karenanya dia bagian dari produk kebudayaan.

Sebagai sebuah produk kebudayaan, kita bisa membaca payung sebagai penanda pertumbuhan sebuah daerah atau sebuah kota. Kalau kita lihat, payung tradisional yang dibuat dari bahan bambu atau kayu dan banyak juga dari campuran keduanya ditambah kertas, kain, benang, dll. Bisa kita baca sebagai sebuah daerah yang mempunyai orang-orang pandai mengolah dan punya jiwa artistik. Bukankah pertumbuhan sebuah kota ditentukan oleh orang-orang yang hidup di dalamnya.

IMG_20150913_155515 IMG_20150913_154824

Kalau cara baca terhadap payung sebagai sebuah produk kebudayaan seperti itu, pertanyaan pun muncul lagi, apakah festival payung yang di gelar ini bagian dari menghidupkan kembali nilai-nilai artistik dan budaya tertentu atau hanya sekedar seremonial untuk mendatangkan wisatawan supaya dianggap sebagai sebuah kota ‘gaul.’

Kalau bicara soal niatnya penyelenggara saya tidak tahu pasti tapi usaha untuk menghidupkan kembali tradisi payung dengan sebuah festival ini menjadi menarik. Karena akan memacu seniman-seniman payung tradisi di beberapa daerah di Indonesia untuk belajar kembali dan mengekplorasi pembuatan payung.

IMG_20150913_155832 IMG_20150913_155350

Dengan mengusung tema ‘Umbrela Reborn’ atau ”Payung Lahir Kembali dalam Kebaruan Artistik Visual.” Saya merasa ada peluang untuk bisa menghidupkan kembalai tradisi payung di Indonesia yang tahun-tahun sebelumnya mulai redup.

Kalau melihat list peserta yang ikut dalam festival ini seperti Baubau (Sulawesi Tenggara), Palu (Sulawesi Tengah), Kuantan Singingi (Riau), Padangpanjang (Sumatera Barat), Bengkulu, Jakarta; Bandung dan Tasikmalaya (Jawa Barat), Yogyakarta; serta Solo, Pekalongan, Klaten (Jawa Tengah). Malahan diikuti juga oleh delegasi dari Thailand, Tiongkok, dan Jepang. Terbuka peluang untuk menghidupkan tradisi payung di Indonesia.

Beberapa kota yang jadi peserta terkenal juga dengan perajin-perajin payung tradisional. Semoga festival semacam ini bisa memicu pertumbuhan tradisi payung di Indonesia kembali. Dan tidak berhenti jadi acara seremonial belaka.

 

2 comments on “Selfie-ria dan ‘Gaul’ di Festival Payung Indonesia

  1. senja
    June 28, 2016

    wah acaranya sngat menarik, apakah event ini rutin digelar setiap tahun?

    Like

    • rumahiman
      August 23, 2016

      ya, sepertinya event rutin tahunan

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 23, 2015 by in catatan kecil, foto, Jalan-jalan and tagged , , , , .
%d bloggers like this: