catatan senyuman

Mendengar Mukti-Mukti

Sore hari sambil minum kopi yang nikmat racikan Ajeng Kusuma, di sela persiapan konser, di ruang galery kecil pinggir auditorium IFI (Institute France Indonesia) Bandung, kami duduk bersila dan mendengarkan Mukti bercerita; konser musik kali ini adalah konser untuk mengenang 20 tahun kebelakang, tahun 1995, ketika pertama kali menggunakan auditorium (yang ada di IFI) sebagai salah satu tempat untuk konser.

‘Dulu, pertama kali konser di auditorium ini nama lembaganya bukan IFI Bandung masih AF ( Aliance France) kemudian berubah jadi CCF ( Center Cultural France) dan sekarang berubah jadi IFI,’ ujarnya sambil memegang cangkir berisi kopi yang masih tersisa setengahnya.

‘Sejak tahun 1995 sudah 9 kali saya konser di tempat ini, tempat paling sering saya gunakan untuk berbagi rasa dengan cinta dan kesederhanaan. Mungkin juga bagi IFI, saya adalah seniman paling sering menggunakan auditoriumnya.’ Kata Mukti melanjutkan obrolan sambil mengemul asap rokok. Setelah menghisap kemudian menyimpan asapnya di rongga mulut, seperti berkumur lalu mengeluarkan asapnya kembali dengan cepat.

Masih merokok? Spontan saya bertanya.

‘Saya tidak benar-benar menghisapnya man, biarlah penyakit dalam tubuh ini merdeka sebagaimana saya juga merdeka. Kita hanya butuh menerimanya.” dengan khusyuk penuh kagum, saya menatap dan mengamati tubuhnya, terlihat lebih ringkih dari beberapa tahun sebelumnya ketika masih sering main futsal bersama.

Sambil sama-sama menyuruput kopi yang hangat, imajinasi saya pun lari-lari ke hampir belasan tahun kebelakang, tahun pertama ngekost di Bandung. Menetap dan belajar. Rasanya baru kemarin merasakan kota ini. Mengenal Mukti dan teman-teman lainnya. Ah, waktu selalu tak pernah bisa menunggu.

Pertama kali menyukai nyanyian Mukti-Mukti rasanya ketika masa-masa awal reformasi. Ketika itu di perhelatan panggung seni di Gelanggang Generasi Muda (GGM) Bandung, Mukti-Mukti membawakan lagu Dede Haris (alm) berjudul ‘I Tsiang Tse’ setelah itu dilanjut dengan ‘Anjing” lagunya dibawakan sangat ekpresif. Para penonton pun saling menimpali. Berteriak. Ramai dan gembira. Saya ingat juga, waktu itu masih berfikir ada juga ya, musisi gila seperti ini. aihh, kenangan lebih gokil dari candaan. Penuh bodor kalau mengingatnya.

Awal perkenalan dengan lagu Mukti-Mukti bagi saya memberi impresi sendiri walaupun diantara hinggar bingar lagu ‘Anjing’ yang waktu itu banyak di request setiap kali Mukti-Mukti tampil, saya lebih suka mendengar ‘Surat untuk D’ dan ‘Sebentar lagi panen kopi.’ Entah kenapa dua lagu itu memberi impresi lain. Pertama kali mendengar dua lagu itu saya langsung jatuh cinta pada lirik dan aransemennya. kalau anda menyimpan lagu tersebut cobalah dengarkan dengan hidmat dan kebijaksanaan.😀

Maka setiap kali menonton dan mendengar Mukti-Mukti menyanyi, saya suka sempatkan merequest dua lagu tersebut. Sayangnya dua lagu tersebut tidak dibawakan oleh Mukti-Mukti pada ‘Konser Cinta Mukti-Mukti Episode Syair Nopember’ 2015 kali ini.

Cerita konsernya begini; sebelum konser mulai, seperti biasa acara dibuka dengan menyanyikan “Indonesia Raya’ yang dipandu oleh Ferry Curtis. Kemudian Mukti-Mukti membuka konsernya dengan lagu ‘Hymne Cahaya’ bersama Ratna yang baru belajar main gitar. Kemudian membawakan ‘Atmosfir Masa lalu’ lalu berpindah ke piano membawakan ‘Lalu Hujan Turun,’ dan lagu ‘Dan Rindu’ yang liriknya di tulis oleh Asmansyah Timutiah. Lagu selanjutnya ‘Syair Nopember’ yang liriknya di tulis Miranda Risang Ayu semakin membawa suasana konser yang intim.

Kemudian lagu ‘Kita Pura-Pura’ yang liriknya ditulis Golagong mengawali cerita tentang kopi dinyanyikan dengan nada sedikit blues karena di barengi suara harmonika Mufid Sururi. Selanjutnya Ajeng Kesuma masuk mengaktifkan perangkat membuat kopi yang ada di atas panggung dengan iringan lagu ‘Menjadi Laut.’ Aroma kopi mulai terasa selain wangi juga hangat. Ya, ini serasa bukan hanya nonton konser musik, suasana akrab dan hangat ini seperti pertemuan keluarga besar.

Selanjutnya Sangkuy dan Dimas mengiringi Mukti dalam ‘Aku Hanya Ingin.’ Mukti tidak bernyanyi hanya Dimas. Dengan suaranya yang bulat dan empuk kadang sedikit jazz, Dimas menjadikan lagu tersebut hidup. Bagi saya vokal Dimas memberi nuansa berbeda pada lagu Mukti malam itu. Kalau tidak percaya lihatlah videonya di youtube yang direkam oleh carda video / sundayscreen

Kemudian ‘Bulan Jingga’ yang liriknya di tulis Fadjroel Rachman malam itu dibawakan dengan lebih ramai ada Donnydombis pada drum, Mufid pada bass, Adi pada gitar elektrik, Sangkuy dan Mukti-Mukti tetap menggunakan gitar akustik. Kemudian dilanjut  ‘Jogja yang Istimewa’, dan ‘Langit Tentangmu’ dimana di tengah lagu Budhi ‘Godot’ Supriatna membacakan puisinya penuh ekpresi. Konser pun di tutup dengan lagu ‘Dendang Kemerdekaan’ yang dibarengi dengan performance Wawan S. Husein dan Ine Arini.

Konser Mukti kali ini rasanya adalah malam yg mengharukan sekaligus menggembirakan, khususnya bagi saya, sebabnya mungkin karena energy musikal dan rasa cinta pada hidup menjadikan Mukti-Mukti di atas panggung berubah menjadi sosok penuh vitalitas. Penuh daya hidup. Bagi saya, ini bukan semata konser juga bukan semata sekedar nyanyian. Ini adalah menanam semangat yang terus diperjuangkan.

Nyanyian Mukti-Mukti selalu seperti suara jernih, menyuarakan hak warga negara dengan rasa cinta. Memberi oase pada hiruk pikuk bunyi politik, ekonomi, pun soal kesenian sekalipun. Suaranya adalah senjata paling tajam, suara cinta yang konsisten selama lebih 25 tahun dibunyikan dengan nama konser musik cinta Mukti-Mukti. Cag.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 18, 2016 by in catatan kecil and tagged , , .
%d bloggers like this: