catatan senyuman

Siapakah Panji?

IMG_20160119_143543IMG_20160119_152944

Catatan kecil ini semacam rangkuman dari acara bincang-bincang sore di Galeri Seni Abun (19/01/2016) yang diberi tema ‘Mendiskusikan Panji’ bersama Toto Amsar Suanda, dosen tari juga peneliti topeng Cirebon dan Henri Nurcahyo, penulis buku ‘Memahami Budaya Panji’ dengan dipandu oleh Heru Hikayat. Sebagaimana rangkuman tentu banyak hal yang luput tercatat.

Pertanyaan dalam judul tulisan ini mengutip dari judul puisi Henri Nurcahyo “Siapakah Kau Panji” yang dibacakan sekaligus presentasi pertama untuk membicangkan Budaya Panji sore itu.

Walaupun di luar hujan cukup deras suasana perbincangan cukup hangat, hadir juga dan memberi komentar dalam perbincangan tentang Panji ini prof. Primadi Tabrani, Pa Endo Suanda, kang Wawan Husein, serta ibu Grace yang memperkaya pemahaman tentang Panji serta beberapa komentar lainnya.

Saya mulai dengan pertanyaan sipakah Panji yang sedang diperbincangkan itu?

Panji yang sedang diperbincangkan adalah sebuah cerita klasik zaman kerjaaan di abad pertengahan di kepulauan Jawa. Menurut Henri, cerita Panji mulai berkembang di Jawa Timur sesudah zaman Kadiri. Ceritanya berkisar tentang seorang putra mahkota kerajaan Kadiri bernama Raden Inu Kerpati yang berkelana mencari Dewi Candrakirana.

Kisah yang bersumber dari kerajaan Kadiri dan Jenggala ini ternyata menyebar ke seluruh Jawa, Bali, Nusa Tenggara, menyeberang ke Sumatra, Kalimantan, bahkan hingga ke negara-negara Malaysia (semenanjung Melayu), Thailand, Kamboja, Myanmar dan sebagainya.

Di Thailand cerita Panji lebih memasyarakat, dikenalkan di bangku sekolah dan buku Cerita Panji itu sendiri ditulis oleh raja Thailand sendiri, yaitu Raja Rama. Di Thailand Cerita Panji dikenal sebagai Cerita Inao, berasal dari kata Inu Kertapati.

Pernah dengar dongeng Ande-ande Lumut, Timun Mas, Keong Mas, Enthit, Panji Laras dan sebagainya. Cerita yang selama ini dikenal sebagai dongeng anak-anak itu adalah bagian atau varian dari Cerita Panji.

Panji juga bukan hanya kisah di atas tapi juga banyak versinya dan media tuturnya. Ada yang menggunakan dongeng, tarian dan ukiran topeng yang dikenal dengan tari topeng, ada juga dengan wayang, baik wayang kulit maupun orang, dengan teater rakyat, serta jenis kesenian tradisi lainnya.

Malahan berdasarkan hasil pengamatan ada 20 candi yang relief nya bercerita tentang Panji. Menurut prof. Primadi, Panji juga mengajarkan bahasa rupa karena penelitian beliau tentang Panji juga yakni Joko Kembang Kuning, satu bagian dari cerita Panji.

Bahasa Rupa sederhananya adalah gambar yang bercerita. Nah, cerita Panji ini menjadi rujukan untuk saya menerangkan apa itu bahasa rupa, ujar prof. Primadi.

Menurut Henri, ada 80 naskah tentang Panji di perpustakaan nasional, ada juga yang tersimpan di perpustakaan Belanda, dan negara lainnya. mungkin ada sekitar 200 cerita yang tertulis dan ada naskahnya. dan di banyak cerita Panji tokohnya ada yang menggunakan nama Panji tapi ada juga yang tidak.

Pak Endo mengomentari tentang ini dengan ‘mungkin hampir sama seperti cerita 1001 malam di Timur Tengah.’ variasi ceritanya banyak, dan biasanya apa yang tertulis dengan cerita yang beredar dimasyarakat itu lebih banyak yang ada di masyarakat. mungkin bisa sampai 4 atau 5 kali lipatnya.

Ditenggarai, pada zamannya Cerita Panji ini sedemikian populer seiring dengan suburnya berbagai jenis kesenian yang membawakannya dimana-mana. Maka ada saat-saat dimana Cerita Panji sanggup bersaing dengan cerita klasik Mahabarata dan Ramayana. Cerita Panji adalah cerita alternatif yang tak kalah menariknya dengan kisah dari Negeri India itu.

kita bisa bayangkan zaman cerita Panji atau kisah-kisah lain yang populer disampaikan dengan media-media yang kita kenal sebagai seni tradisi sekarang. Populer karena hanya ada media jenis itu yang bisa langsung diakses masyarakat. Belum ada buku komik, radio, teve, video game, internet, dll.

IMG_20160119_151545 IMG_20160119_172528

Di luar hujan makin deras, di ruang perbincangan menghangat dengan pertunjukan tari topeng cirebon yang dimainkan oleh mahasiswa ISBI membawakan tarian Topeng Panji. Setelah pertunjukan, sambil duduk menggunakan topi laken hitam, Toto Amsar Suanda memaparkan bagaimana Topeng Panji berkembang menjadi suatu, katakanlah “diaspora”, dalam khasanah tarian topeng Cirebon.

Menurut Toto, cerita Panji memang lekat dengan topeng Cirebon, bahkan menjadi ciri utamanya. Akan tetapi, bukanlah ceritanya yang disuguhkan melainkan hanya beberapa tokohnya yang diungkapkan dalam bentuk tari-tarian. Karakter tokoh-tokohnya ‘dipinjam’ untuk mengungkapkan fenomena kehidupan manusia, mulai dari lahir sampai mati; dari yang berwatak alus atau baik sampai ‘kasar’ atau buruk; dan dari tingkatan syariat sampai makrifat. Dalam tari topeng Cirebon cerita Panji tidak secara eksplisit dinarasikan alurnya. Topeng Panji, Samba, dan Klana misalnya, gerakannya sama sekali bukanlah gambaran naratif tokoh dalam cerita Panji. Cerita Panji hanya sebagai background pertunjukan topeng Cirebon.

Selain itu, Panji memiliki keunikan pada nama-nama tokohnya. Pertama adalah penggunaan nama binatang seperti kuda. Hampir semua nama tokoh yang ada awal kuda menurut Toto itu berkaitan dengan cerita Panji.

Di banyak cerita Panji tokoh-tokohnya menggunakan awalan dengan nama binatang seperti: Jaran Pawagal, Gajah Biru, Gajah Lembana, Gajah Engkon, Gajah Gambura, Lembu Peteng, Jaran Bangkal, Kebo Andaka, Kebo Jambira, Kebo Tapira, Kidang Glathik, Klabang Curing, dan lain-lain.

Sepertinya sedikit beda dengan Tari Topeng Cirebon, yang saya tahu, waktu nonton festival tari di Solo, di Solo Tari Topeng Panji memiliki beberapa variasi yaitu Tari Panji Bogis, Tari Panji Nem, dan Tari Panji Sepuh. Dan konon, dua nama terakhir merupakan Tari Jawa Klasik yang diciptakan pada masa Pakubuwono II.

Di Luar galeri hujan makin deras, acara bincang-bincang terus berlanjut. Saya kira obrolan tentang Panji menjadi penting karena menyangkut khasanah lama dari kebudayaan kita, dan bagaimana nilai-nilai lama ini bertahan serta berkembang di tengah gerusan zaman baru ini. Bagaimanapun kebudayaan kita tidak saja dibentuk oleh berbagai temuan teknologi baru di masa kini, melainkan tetap bertaut dengan pola pikir yang telah terbentuk sejak lama. Cerita Panji, kiranya merupakan salah satu tonggak yang bertahan hingga kini.

Karena ini rangkuman jadi cerita sekilas itu dulu ya.  lain kali cerita  tentang Panji akan saya lanjut dalam tulisan lain ya.😀

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 21, 2016 by in catatan kecil, foto and tagged , , , , , , .
%d bloggers like this: