catatan senyuman

Merasakan Kebudayaan Tionghoa di Ketandan Yogyakarta

IMG_20160219_192942

Malam kemarin, setelah Isya, saya jalan ke kampung pecinan Ketandan (Ke Tan Than Chuen), Yogyakarta. Masuk dari arah jalan Malioboro untuk berkunjung dan merasakan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) yang berlangsung dari tanggal 18 – 22 Februari 2016. Suasana ramai sekali, berdesakan tapi menyenangkan.

Sepanjang jalan Ketandan berderet para pedagang makanan, kuliner yang unik dan khas, yang jarang saya jumpai dalam keseharian. Mungkin karena saya juga jarang makan makanan China jadi jarang lihat.😀 walaupun tidak semua saya tau namanya tapi masih ada yang saya kenali misalnya Bacang, Siomay, Bakso, Cakuwe, Lumpia, Bakpao, Dimsum, dan Lontong. Ya, Lontong yang dijual di pekan kuliner kali ini bukan sembarang Lontong, ini adalah Lontong Cap Go Meh, makanan yang konon penuh keberuntungan. Tak percaya? Silahkan pesan sendiri dan makan di sini.😀

IMG_20160219_195140 IMG_20160219_191830

Oh ya, bagi anda yang tidak suka daging tertentu, misalnya daging babi, lebih baik bertanya dulu sebelum makan. Misalnya kalau mau beli Bacang, tanya dulu ke penjual isi daging dalamnya. Bacang yang dijual di sini ada yang pakai daging ayam, babi, dan sapi. Jadi bisa pilih yang disukai. Untuk makanan jenis yang lain, saya tidak tahu pasti. Yang pasti, semua makanan di bazar kuliner ini hanya ada dua rasa, satu enak, dan yang kedua enak sekali.😀 Malam itu saya hanya coba pesan Siomay udang, rasanya enak sekali, dan mencoba juga ketan duren. So pasti, enak juga tentunya. Minumnya es teh hijau, dingin dan segar.

Kesegaran yang dibutuhkan tubuh saya malam itu, karena cuaca mendung tapi tidak hujan. Kalau menurut orang Jogja, udaranya sumuk. Saya kegerahan, bisa jadi bukan semata karena cuaca tapi karena ramai orang. Bisa jadi juga karena jalan kaki dari parkiran yang cukup jauh ke jalan Ketandan sambil menggendong ransel berisi kantor dan lemari pakaian. Berisi laptop, kamera, dan beberapa baju ganti.😀

Di PTBY ini ada panggung utama dan beberapa panggung kecil. Kira-kira di tengah-tengah jalan Ketandan ada panggung utama dan tempat stand pameran, berisi pertunjukan tari, musik, dll. Panggung kecil diisi dengan lomba karaoke, lomba mendongeng, lomba baca puisi, wacinwa (wayang China Jawa), dll. Dan pas dibelokan jalan ada pertunjukan klasik Wayang Po Tay Hee (Potehi). Malam itu sedang membawakan lakon Si Jin Xui, pangeran tampan, pemberani, dan pembela kebenaran. Di perempatan jalan sebelum panggung utama, malam itu ada kelompok musik yang sedang ngamen membawakan lagu-lagu pop dengan instrumen China. Walaupun ramai, suasananya asyik.

IMG_20160219_194155 IMG_20160219_193106

Katanya, PBTY 2016 ini adalah perayaan yang ke-11, digelar untuk memperingati Hari Raya Imlek dan Cap Go Meh. Seperti perayaan hari besar China pada umumnya suasana merah menyebar dimana-mana, lampion merah dan gambar serta boneka naga dijual oleh pedagang kaki lima. Yang sedikit mencolok, pada perayaan kali  ini adalah boneka serta patung  monyet  menghiasi panggung utama, menurut penanggalan China tahun 2016 adalah tahun monyet api.

IMG_20160219_192713

Berdasarkan kalender perhitungan bulan, Imlek sudah berlangsung sejak 2567 tahun lalu, yang jatuh tiap tanggal satu bulan satu di musim semi. Dalam kalender Masehi Imlek tahun ini bertepatan dengan tanggal 8 Februari. Perayaan Imlek berlangsung selama 15 hari, maka disebut Cap Go Meh. Cap artinya 10, Go itu lima dan Meh itu malam. Jadi puncak perayaan dilakukan pada malam ke-15 yang jatuh pada 21 Februari malam.

Jadi malam ini, ketika saya menulis cerita ini di stasiun Lempuyangan sambil menunggu kereta,  adalah puncak dari perayaan Imlek, menurut kalender  yang ditempel didinding, acara pucak PBTY akan dilaksanakan malam ini juga dengan karnaval barongsai yang akan melewati jalan Malioboro menuju alun-alun utara. Sayangnya saya tidak bisa menghadiri acara puncak ini karena punya agenda di kota lain.

IMG_20160219_194435

Kita tahu, perayaan Imlek merupakan tradisi budaya yang sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu di Tiongkok. Biasanya, bagi yang merayakannya menjadi ajang kumpul-kumpul keluarga, seperti Lebaran atau Idul Fitri dalam Islam.

Dan biasanya juga, anak-anak kecil dan pemuda yang belum menikah akan mendapat angpao berupa amplop kecil berwarna merah yang berisi uang, menandai sebagai bekal usaha di masa yang akan datang. Sementara orang tua yang sudah tidak bisa usaha juga mendapat angpao sebagai bentuk penghormatan. Sayangnya malam itu saya tidak dapat angpao yang ada kaki pegel karena jalan mulu dan berdiri lebih dari satu jam untuk nonton wayang Potehi.😀

Tulisan ini diikutsertakan dalam Telisik Imlek Blog CompetitionJakartaCorners yang di Sponsori oleh Batiqa Hotels.

3 comments on “Merasakan Kebudayaan Tionghoa di Ketandan Yogyakarta

  1. donna imelda
    March 1, 2016

    Terimakasih ya sudah berpartisipasi, good luck!

    Like

  2. Salman Faris
    March 1, 2016

    Jogja juga sangat kental dengan adat tionghoanya ya, pengen eksplore ketandan di yogya😀

    Like

    • rumahiman
      March 3, 2016

      ya, kampung Ketandan ada di area Malioboro. Asyiik donk.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 21, 2016 by in catatan kecil, foto, Jalan-jalan and tagged , , , .
%d bloggers like this: