catatan senyuman

Ikebana, Memberi Makna Rangkaian Bunga

IMG_20160303_184533

Ikebana adalah seni merangkai bunga gaya Jepang yang membutuhkan ekspresi kreatif dalam bingkai aturan, dengan memanfaatkan  ranting, daun, berbagai macam bunga dan rerumputan yang dirangkai sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah rangkaian yang hidup yang menyatu antara kejiwaan manusia dengan alam sekitarnya. Itulah arti Ikebana yang ditulis dalam brosur pameran “A Path Towards Contemporary Ikebana” Life and Balance yang diselenggarakan di Lawangwangi Creative Space.

IMG_20160303_191522

Sore hari kamis, 3 Maret 2016, ketika pembukaan pameran saya sengaja datang untuk melihat dan mencari tahu tentang Ikebana. Walaupun pernah mendengar nama Ikebana dari sejak mahasiswa kemudian ketika awal tahun 2014 pas sedang jalan ke Jepang tapi saya tidak pernah mengerti perbedaan antara Ikebana dan merangkai bunga biasa yang ada di Indonesia.

Yang saya tahu kalau di Indonesia, biasanya rangkaian bunga dikirim untuk ucapan selamat atau duka cita ada juga untuk tanda cinta. Tapi Ikebana, kayaknya bukan semata itu, tradisi ini juga bagian dari penghormatan pada alam semesta juga para dewa. Tak heran kalau datang ke kuil-kuil di Jepang di hari-hari istimewa kita bisa melihat ikebana sebagai bagian dari upacara keagamaan.

IMG_20160303_184112

Andajani Trahaju, kurator pameran dalam pengantar kuratorialnya menceritakan konteks yang diangkat dalam pameran ini; Pameran ini bermula dari keprihatinan melihat masalah Korupsi dan Kebakaran Hutan di Indonesia. Gambaran umum tentang buruknya manajemen hutan seperti banyak perusahaan dengan mudah mengkonversikan hutan menjadi lahan penghasil uang secara tidak legal, kemudian keprihatinan melihat kenyataan akan kehidupan saat ini yang materialistik dan sangat dipengaruhi oleh pola pikir hedonis, dimana hidup yang penuh kesenangan duniawi telah menjadi tujuan sebagian besar orang, sehingga keseimbangan material dan spiritual tersisihkan karena manusia hanya memikirkan kesenangan dunia, dengan kata lain tidak ada keseimbangan hidup. Dalam konteks seperti itulah pameran ini hadir.

IMG_20160303_184256

Yang menarik selain membaca pameran ini dengan konteks yang ditawarkan kurator, kita bisa juga membacanya sebagai perkembangan komunitas Ikebana di Indonesia. Walaupun tradisi merangkai bunga ala Jepang di Indonesia ini bukan hal baru tapi sudah ada sejak tahun 80-an, saya kira, untuk pameran Ikebana di sebuah galeri seni rupa mungkin ini hal pertama.

IMG_20160303_202004

Tentu saja untuk menggunakan bentuk-bentuk tanaman dengan makna-makna simbolik dan sifat puitis dari setiap bunga, semak dan tanaman butuh intuisi seni. Saya menyangka para perangkai Ikebana yang ikut dalam pameran ini punya intuisi seni yang tinggi.

IMG_20160303_184910

Dan bila mengamati pameran ini terlihat, komposisi sederhana dan indah dengan karakteristik unik dari bahan-bahan lokal. Tumbuhan dan bunga yang bisa dijumpai di Indonesia. Berbagai kombinasi bahan lokal yang digunakan adalah adaptasi Ikebana yang cukup berhasil. Hanya saja ketika di pamerkan di sebuah ruang pamer, saya merasa masih ada yang kurang terutama dalam pencahayaan. Mungkin karena waktu saya melihatnya adalah sore menjelang malam jadi cahaya kurang maksimal.

IMG_20160303_181742

Pameran ini melibatkan 17 perangkai Ikebana, yaitu; Wiwiek Tonny Surono, Andajani Trahaju, Swasti Kania, Evi Moeljo, Melinda Lavinia Tjokrohartono, Linawatie Kustandi, Tutwuri Handayani, Lestari Mulyanto, Mimi Safira Permana, Juniyanti Erlina Panggabean, Nita Arifin, Juliana Joe, Kikuchi Miho, dan 2 seniman yaitu Nia Gautama menggunakan medium keramik dan Chairin Hayati menggunakan media bambu dalam instalasinya. Serta beberapa keramikus yang karyanya dipergunakan sebagai wadah untuk merangkai: Natas Setiabudhi, FX Widayanto, dan Asmudjo.

Selain itu, Andajani Trahaju, selain kurator juga mencoba mengeksplorasi karya seni patung dari seniman Ali Rubin, keramik dari Jatiwangi Art Factory dan kayu sisa karya Tanada Koji untuk menjadi rangkaian Sculptural Ikebana.

IMG_20160303_184416

Sore itu, pameran dibuka oleh Tadashi Ogawa, selaku Direktur The Japan Foundation. Dan, setelah acara pembukaan, ada demontrasi Kimono Furisode oleh Satomi Ogawa yang tidak kalah menarik menggunakan model dari Indonesia.

Pameran Ikebana aliran Ohara ini akan berlangsung hanya sampai dengan 6 Maret 2016, terbuka untuk UMUM (pukul 10.00 – 20.00 WIB). Jadi untuk yang berminat mengapresiasi silahkan datang langsung ke Lawangwangi Creative Space, Jl. Dago Giri no. 99, Mekarwangi, Warung Caringin Bandung. Silahkan.😀

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 3, 2016 by in catatan kecil, foto and tagged , , , .
%d bloggers like this: